Archive for the ‘Weblogs’ Category

Teman-temanku di BPK RI

Sunday, April 13th, 2008

Bpk2Minggu pagi kemarin, saya dikejutkan dengan kunjungan yang tak terduga dari dua teman baik saya, Didit dan Hary. Dua anggota geng gambus itu tak disangka-sangka sudah memakirkan motornya di halaman rumah saya. Sebenarnya sebelumnya mereka menelpon saya, tetapi saya tidak tahu karena HP sedang di charge di kamar.

Kunjungan mereka tidak berhenti hanya di rumah saya saja. Karena tidak berapa lama, kami memutuskan keluar rumah untuk berkunjung ke rumah teman yang lainnya, sekalian kumpul-kumpul pikir kami, Rizki. Hary, Didit, dan Rizki adalah teman satu kampus saya di Undip dulu dan saat ini mereka berdinas di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), menjadi anak buah Pak Anwar Nasution. Saat ini Hary berdinas di BPK Manokwari nun jauh di ujung timur Indonesia sana, Didit di BPK Surabaya dan Rizki, beruntung dia, ditugaskan di Jakarta saja. Kebetulan pada minggu ini Hary dan Didit sedang ditugaskan oleh BPK di daerahnya untuk mengikuti diklat di Jakarta . Kami banyak menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor ngidul kesana kemari, sambil sesekali menelpon kawan lain sekiranya ada yang bisa bergabung dengan kami, melengkapi reuni kecil kami. Di setiap topik pembicaraan hari itu, kami banyak membahas seputar tugas dan suka duka mereka berdinas di BPK.

Melihat teman-teman saya bercerita, saya kagum pada mereka dengan dedikasi mereka dengan pekerjaan. Terkadang saya suka tersenyum-senyum sendiri tidak menyangka mereka akan sekeren itu, hehehe… maklum saja kalau ingat masa-masa kuliah dulu siapa yang menyangka mereka akan se-nasionalis itu. Yang saya kagumi dari mereka adalah kesempatan mereka untuk berkiprah nyata terhadap bangsa ini melalui institusi tempat mereka bernaung tidak mereka sia-siakan. Kami mengobrol banyak tentang idealisme masing-masing, tentang budaya korupsi maupun gratifikasi, tentang bagaimana ilmu Akuntansi yang pernah mereka kenyam di bangku kuliah dulu mereka terapkan dalam pekerjaan mereka. Saya bangga dengan teman-teman saya ini. Bahkan saya sedikit iri terhadap kesempatan dan kiprah mereka untuk mengabdi pada Negara. Saya berpikir, mungkinkah pekerjaan yang saya lakukan tiap hari termasuk pengabdian saya pada Negara? Setidaknya saya tidak pernah alpa membayar pajak perusahaan tempat saya bekerja pada Negara, hehehe. Saya hanya bisa berdoa semoga mereka diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk menjalankan tugas mereka dengan baik dan terhindar dari godaan duniawi yang semu. Semoga melalui tangan-tangan mereka, Bangsa dan Negara tercinta ini dapat terselamatkan dari tindakan-tindakan yang merugikan dan menyengsarakan sehingga bisa bangkit menjadi Bangsa dan Negara yang besar dan disegani suatu saat nanti. Insya Allah.

Pohon Untuk Masa Depan

Monday, March 31st, 2008

Image243Kemarin saya mengikuti kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) kantor saya. kebetulan saya mendapatkan tugas untuk membagikan bibit pohon manggis dan memastikan bibit tersebut ditanam oleh warga di sekitar pabrik kami yang ada di Sukabumi.  Saya menikmati kegiatan itu. Bukan karena kegiatan itu membuat saya off dari pekerjaan saya, tetapi lebih kepada perasaan saya yang sangat bahagia dapat membagi kebahagiaan buat penduduk di sekitar pabrik kami. Yang kami bagikan memang hanya sebuah bibit pohon. Namun animo dan antusiasme masyarakat di desa yang kami kunjungi sangat tinggi. Banyak yang meminta lebih bibit yang dibagikan melebihi bagian masing-masing.  Tidak hanya orang tua yang antusias, anak-anakpun demikian.

Saya hanya berharap semoga pohon yang kami bagikan dapat tumbuh subur dan menghasilkan di desa itu. Semoga pohon yang kami bagikan dapat menjadi salah satu penyelamat masa depan kami.

===================================================

Facts :

In 50 years one tree recycles more than $37,000 worth of water, provides $31,000 worth of erosion control, $62,000 worth of air pollution control, and produces $37,000 worth of oxygen.

Ide – ide Menyelamatkan Bumi di Atas Meja Kerja

Thursday, March 13th, 2008

Image237Di atas meja kerja saya, ada sebuah kalender meja dari Medco Energi yang bertemakan Global warming. Saya memperoleh kalender tersebut dari papa saya. Kalender yang cukup menarik selain karena bentuknya yang unik karena dilengkapi dengan notes-notes kecil, kalender tersebut berisi tips-tips yang berguna dan menginspirasi saya untuk melakukan hal-hal kecil tapi berdampak untuk penyelamatan Bumi ini. Berikut ini adalah ide-ide yang saya rangkumkan dari kalender saya itu.

Bulan Januari. Lembar bulan January ini mengangkat tema “Light up your life/ Terangi hidup anda”. Tindakan yang dapat dilakukan adalah :

  1. Ganti bola lampu biasa dengan bola lampu hemat energi (compact fluorescent light bulb)

  2. Matikan lampu saat meninggalkan ruangan

  3. Pasang saklar peredup pada bola lampu rumah yang tidak harus selalu terang benderang

  4. Catlah tembok rumah anda dengan warna yang terang

  5. Bukalah tirai jendela dan matikan lampu pada siang hari

Bulan Februari. Lembar bulan ini mengangkat tema “Phantom Load/ Muatan yang berlebihan”. Banyak dari kita kurang menyadari adanya phantom load ini. Tipsnya adalah :

  1. Cabut kael peralatan elektronik dari stop kontak pada saat tidak digunakan

  2. Gunakan kabel ekstensi yang bisa dimatikan pada saat tidak digunakan

Bulan Maret. Temanya “Buy Energy-efficient household appliances/ Beli peralatan rumah tangga yang hemat energi”. Tindakan yang dalat kita lakukan adalah :

  1. Perbarui peralatan rumah tangga dengan kulkas baru yang hemat energi

  2. Beli selalu peralatan yang memiliki logo “Energy Star”

  3. Pilih peraltan rumah tangga yang kegunaan dan ukurannya sesuai dengan kebutuhan.

Bulan April. Lembar bulan ini bertema “Let Someone Else do the driving/ Biarkan orang lain yang mengemudi”. Memberikan ide yang baik untuk menghemat bahan baker fosil untuk bepergian. Yang bisa kita lakukan:

  1. Gunakan sarana transportasi umum

  2. Bergilir berbagi kendaraan dengan kawan/ tetangga untuk pergi ke kantor, sekolah atau pasar bersama-sama.

Bulan Mei. Temanya “Use Person Power/ Gunakan tenaga manusia”. Tips yang bisa dilakukan:

  1. Berjalan kaki jika jarak tempuh cukup dekat

  2. Gunakan sepeda untuk bepergian

  3. Gunakan becak sebagai salah satu pilihan bila jarak terlalu jauh untuk berjalan kaki

Bulan Juni. Tema  “Buy Local Product/ Beli produk local” hal ini terkait dengan biaya pengiriman dari satu tempat ke tempat lain untuk produk komoditi yang sebenarnya dapat tercukupi di suatu daerah. Tindakannya :

  1. Konsumsi makanan hasil budidaya local

  2. konsumsi buah-buahan sesuai dengan musimnya

  3. konsumsi makanan hasil budidaya organic

  4. tanamlah sayuran di kebun

Bulan Juli. Tema “Eat your Veggies/ Makanlah sayuran” tips-tips nya:

  1. Kurangi makan daging

  2. Mulailah belajar memasak makanan tanpa harus mengandalkan daging

Bulan Agustus. Temanya “Less is more/ Kurang adalah lebih”. Mendorong kita untuk bijak dalam penggunakan kemasan untuk barang yang kita beli atau konsumsi. Hal yang dapat kita lakukan:

  1. Jadilah minimalis, semakin sedikit barang yang dibeli semakin sedikit pula bahan bakar fosil yang digunakan untuk memproduksinya

  2. Beli barang dalam jumlah banyak/ ukuran besar untuk mengurangi jumlah kemasan

  3. Hindari kemasan yang berlebihan

  4. Menabunglah agar dapat membeli barang kualitas baik walaupun mahal karena dapat bertahan lama daripada membeli barang murah dengan kualitas buruk sehingga harus sering diganti.

Bulan September. Tema “Minimize paper use/ Kurangi penggunaan kertas” Idenya cukup sederhana dan bisa segera dimulai. Caranya:

  1. Gunakan kertas yang bebas klorin dan bisa didaur ulang

  2. Gunakan kedua sisi kertas untuk fotokopi atau mencetak dokumen

  3. Gunakan dan simpan dokumen dalam bentuk softcopy

  4. Gunakan kembali amplop, kantong dan kertas bekas

  5. Gunakan email atau fax melalui computer

  6. Hindari penggunaan lembar pengantar untuk fax

Bulan Oktober. Tema “Use it again/ Gunakan kembali” Mencegah kita untuk melakukan konsumsi barang yang sekali pakai karena akan menyebabkan pemborosan dari proses produksi barang tersebut.

  1. Gunakan tas kain untuk berbelanja

  2. Beli baterai isi ulang daripada sekali pakai

  3. Beli inta isi ulang daripada membuang cartridge tinta printer

  4. Gunakan peralatan makan yang dapat digunakan kembali. Hindari penggunaan peralatan makan dari kertas/ plastik

  5. Gunakan serbet, saputangan dan lap dari kain

  6. Gunakan kembali kantong plastik untuk pelapis tong sampah

Bulan November. Temanya “ Manage your garbage/ Kelola sampah anda” Tipsnya :

  1. Ubah sampah organic menjadi kompos

  2. Daur ulang sampah kertas, kaca, baja dan aluminium dan sampah plastic

Bulan Desember. Tema “Plant Trees/ Tanam Pohon” tindakan yang bisa diterapkan :

  1. Pastikan tanaman yang ditanam dikebun merupakan tumbuhan local yang sesuai dengan iklim setempat

  2. Tanam tanama berdasarkan jumlah air yang dibutuhkan

  3. Beri campuran materi organic di sekeliling batang pohon/ tanaman di tanah

  4. Biarkan sisa potongan rumput tersebar di halaman daripada mengumpulkannya dalam kantong untuk dibuang.

Sebenarnya dari berbagai tema dalam kalender saya itu sudah banyak saya dengar baik melalui media cetak maupun elektronik, tapi terkadang saya lupa untuk menjalankannya dengan baik. Contohnya seperti halnya masalah sederhana dalam penggunaan kertas ataupun mematikan lampu kalau meninggalkan ruangan. Padahal faktanya dengan mendaur ulang 100 kg kertas daripada membuangnya kita telah mencegah jumlah emisi gas CO2 sebesar 600 kg/ tahun. Sepertinya langkah kecil belajar dari kalender kecil saya ini dapat membantu memperpanjang usia bumi ini.

Cerita tentang Mbak Joyce dan Pak Harto

Sunday, January 27th, 2008

Di pertengahan minggu ini saya dikagetkan oleh sebuah kabar melalui email bahwa mbak Joyce, salah satu group leader di training leadership Dale Carnegie, meninggal dunia. Mbak Joyce F Sepang, wanita yang ceria, bersemangat dan heboh, baru berusia sekitar 45 tahun. Masih terbilang muda, dan masih bisa teringat di memori saya, almarhumah begitu bersemangat dan antusias di setiap sesi yang kami ikuti waktu training. Sangat tidak pernah menyangka sedikitpun akan mendengar kabar seperti itu, juga teman-teman training saya yang lain. Semua bertanya-tanya ada apa gerangan, kenapa rekan dan sahabat kami begitu cepat meninggalkan dunia ini?

Menurut keterangan dari pihak keluarga mbak Joyce, sebelum meninggalnya, Mbak Joyce sempat dirawat di rumah sakit selama beberapa hari dan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Disinyalir ada kanker di sela-sela otaknya. Mungkin itulah penyebabnya tapi siapa yang tahu pasti?

Hanya butuh hitungan hari bagi mbak Joyce di rumah sakit sebelum akhirnya beliau meninggal. Sangat berbeda dengan kabar di media beberapa hari terakhir dimana mantan Presiden Republik Indonesia, Jenderal Besar Purnawirawan H M Soeharto yang sudah demikian kritisnya masih mampu naik turun kondisi fisiknya. Sudah hampir sebulan lamanya beliau dirawat dengan intensif di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Kala masih kritis keadaannya beberapa rekan bahkan mungkin banyak lagi anak bangsa ini bertanya-tanya, “apakah ini waktunya beliau?” konon katanya, sudah banyak yang menanti di Solo dan bersiap-siap siapa tahu sang Jenderal benar-benar berpulang. Ternyata kabar itu belum juga terdengar bahkan tanggal 26 Januari 2008, di media terdengar kabar bahwa keadaan beliau membaik dan diprediksi dalam beberapa hari beliau bisa pulang ke rumah. “hebat” pikirku. Ternyata tidak ada seorangpun yang mampu meramalkan kapan kematian seseorang, beliau bisa kembali ke rumah. Namun hal tersebut berbalik 180 derajat ketika keesokan harinya, 27 Januari 2008 pukul 13.10 ternyata The Smiling General wafat setelah seluruh organ penting di tubuhnya tidak berfungsi lagi. Kabar yang begitu cepat, yang tidak bisa diprediksi bahkan oleh para dokter sekaliber dokter kepresidenan yang merawat Pak Harto.

Hampir semua stasiun televisi menayangkan program breaking news mengenai wafatnya pak Harto, sontak seluruh stasiun televisi menayangkan memori mengenai Bapak Pembangunan ini, mengenai bagaimana beliau menjalani masa kecilnya di dusun kecil di pinggiran Yogyakarta sampai bagaimana prestasi beliau membawa kemajuan ekonomi bagi bangsa ini. Dari berita-berita dan tayangan tersebut saya bisa melihat bagaimana ternyata kilasan hidup seseorang yang berusia 86 tahun dapat ditayangkan hanya dalam beberapa waktu saja. Mungkin tidak semua memang tetapi hal itu menyiratkan bahwa betapa hidup itu begitu singkat. Cukup singkat bagi Pak Harto, mungkin akan lebih singkat lagi bagi mbak Joyce.

Umur manusia memang benar adanya tidak bisa ada yang bisa meramalkannya. Saya sangat tahu makna dari kalimat tersebut, mungkin jutaan orang didunia ini pun tahu maksudnya. Masalahnya, kita sering lalai dengan umur yang sudah digariskan kepada kita. Masih banyak diantara kita mungkin lupa bahwa sebenarnya kita saat ini hanya menunggu giliran untuk dipanggil oleh yang Maha Kuasa. Meminjam istilah yang sering digunakan oleh Aa Gym bahwa kita semua ini adalah sebenarnya calon mayat. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal tetapi kita dapat tahu pasti bahwa kita semua pasti meninggal. Dua kejadian dalam minggu ini menyadarkan saya bahwa betapa kita begitu rapuh. Mumpung masih tersadarkan, mumpung masih ada waktu tersisa, rasanya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menunggu waktu kita.

=============================================================

Kematian Paman Gober
Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Kematian paman gober ditunggu-tunggu semua bebek. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang mereka ingin ketahui hanya satu hal: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Paman Gober memang terlalu kuat, terlalu licin, dan bertambah kaya setiap hari. Gudang-gudang uangnya berderet dan semuanya penuh. Setiap hari Paman Gober mandi uang di sana, segera setelah menghitung jumlah terakhir kekayaannya, yang tak pernah berhenti bertambah.

Begitu kayanya Paman Gober, sehingga ia tak bisa hafal lagi pabrik apa saja yang dimilikinya. Bila terlihat pabrik di depan matanya, ia hampir selalu berkata, "Oh, aku lupa, ternyata aku punya pabrik sepatu." Kejadian semacam ini terulang di muka pabrik sandal, pabrik rokok, pabrik kapal, pabrik arloji, maupun pabrik tahu-tempe. Boleh dibilang, hampir tidak ada pabrik yang tidak dimiliki Paman Gober. Ibarat kata, uang dicetak hanya untuk mengalir ke gudang uang Paman Gober. Meskipun kaya raya, anggota klub milyarder no.1, Paman Gober adalah bebek yang sangat pelit. Bahkan kepada keluarganya, Donal bebek, ia tidak pernah memberi bantuan, meski Donal telah bekerja sangat keras. Malah Donal ini, beserta keponakan-keponakan nya Kwak, Kwik, dan Kwek, hampir selalu diperas tenaganya, dicuri gagasannya, dan hasilnya tidak pernah dibagi. Cendekiawan jenius Kota Bebek, Lang Ling Lung, yang dimuka rumahnya tertera papan nama Penemu, Bisa Ditunggu, pun hamper selalu diakalinya.

Sudah berkali-kali Gerombolan Siberat, tiga serangkai kelas kakap, menggarap gudang uang Paman Gober, namun keberuntungan selalu berada di pihak Paman Gober. Paman Gober tak terkalahkan, bahkan oleh Mimi Hitam, tukang tenung yang suka terbang naik sapu. Sudah beberapa kali Mimi Hitam berhasil merebut Keping Keberuntungan, jimat Paman Gober, namun keping uang logam kumuh itu selalu berhasil direbut kembali. Tidak bisa dipungkiri, Paman Gober memang pekerja keras. Masa mudanya habis di lorong-lorong gua emas. Sebuah gunung emas yang ditemukannya menjadi modal penting yang telah melambungkannya sebagai taipan tak tersaingi dari Kota Bebek.

Suatu hal yang menjadi keprihatinan Nenek Bebek, sesepuh Kota Bebek yang mengasingkan ke sebuah pertanian jauh di luar kota, adalah kenyataan bahwa Paman Gober dicintai kanak-kanak sedunia. Paman Gober menjadi legenda yang disukai. Paman Gober begitu rakus. Paman Gober begitu pelit. Tapi ia tidak dibenci. Setiap kali ada orang mengecam, menyaingi, pokoknya mengancam reputasi Paman Gober sebagai orang kaya, justru orang itu tidak mendapat simpati. Paman Gober bisa menangis tersedu-sedu meski hanya kehilangan uang satu sen. Ia sama sekali bukan tokoh teladan, tapi mengapa ia bisa begitu dicintai? "Dunia sudah jungkir balik," ujar Nenek Bebek kepada Gus Angsa, yang meski suka makan banyak, sangat malas bekerja. Namun Gus Angsa sudah tertidur sembari bermimpi makan roti apel.

"Suatu hari dia pasti mati," ujar Kwik.
"Memang pasti, tapi kapan?" Kwak menyahut.
"Kwek!" Hanya itulah yang bisa dikatakan Kwek.
Dasar bebek.

Begitulah, setiap hari, Lubas, anjing dirumah Donal, membawa Koran itu dari depan pintu ke ruang tengah.

“Belum mati juga!"
Donal segera membuang lagi Koran itu dengan kesal. Karena memang tiada lagi berita yang bisa dibaca di Koran. Banyak kabar, tapi bukan berita. Banyak kalimat, tapi bukan informasi. Banyak huruf, tapi bukan pengetahuan. Koran-koran telah menjadi kertas, bukan media.

Semua bebek memang menunggu kematian Pman Gober. Itulah kabar terbaik yang mereka harapkan terbaca. Paman Gober sendiri sebenarnya sudah siap untuk mati. Maklumlah, sebagai generasi tua di Kota Bebek, umurnya cukup uzur. Untuk kuburannya sendiri, ia telah membeli sebuah bukit, dan membangun mausoleum di tempat itu. Jadi, bukannya Paman Gober tidak mau mati. Ia sudah siap untuk mati.

"Mestinya, bebek seumur saya ini, biasanya ya sudah tahu diri, siap masuk ke liang kubur. Makanya, ketika saya diminta menjadi Ketua Perkumpulan Unggas Kaya, saya merasakan kegetiran dalam hati saya, sampai beberapa lama saya bisa bertahan? Apa tidak ada bebek lain yang mampu menjadi ketua?"Kalimat semacam itu masuk ke dalam buku otobiografinya, Pergulatan Batin Gober Bebek, yang menjadi bacaan wajib bebek-bebek yang ingin sukses. Hampir setiap bab dalam buku itu mangisahkan bagaimana Paman Gober memburu kekayaan. Mulai dari harta karun bajak laut, pulau emas, sampai sayuran yang membuat bebek-bebek giat bekerja, meski tidak diberi upah tambahan. Bab terakhir diberi judul Sampai Kapan Saya Berkuasa?. Memang, Paman Gober adalah ketua terlama Perkumpulan Unggas Kaya. Entah kenapa, ia selalu terpilih kembali, meski pemilihan selalu berlangsung seolah-olah demokratis. Begitu seringnya ia terpilih, sampai-sampai seperti tidak ada calon yang lain lagi.


"Terlalu, masak tidak ada bebek lain?"

Paman Gober selalu berbasa-basi. Namun, entah kenapa, kini bebek-bebek menjadi takut. Paman Gober, memang, terlalu berkuasa dan terlalu kaya. Setiap hari yang dilakukannya adalah mandi uang. Ketika Donal Bebek bertanya dengan kritis, mengapa Paman Gober tidak pernah peduli kepada tetangga, bantuan keuangannya kepada Donal segera dihentikan.

"Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu, masih meleter pula."
"Apakah saya tidak punya hak bicara?"
"Bisa, tapi jangan asal meleter, nanti kamu aku sembelih."
"Aduh, kejam sekali, menyembelih bebek hanya dilakukan manusia."
"Ah, siapa bilang bebek tidak kalah kejam dari manusia."
"Lho, manusia makan bebek, apakah bebek makan manusia?"
"Yang jelas manusia bisa makan manusia."
"Tapi Paman mau menyembelih sesame bebek, apakah sudah mau meniru sifat
manusia?"

Paman Gober mempunyai banyak musuh, namun Paman Gober suka memelihara musuh-musuh yang tidak pernah bisa mengalahkannya itu, justru untuk menunjukkan kebesarannya. Paman Gober sering muncul di televisi. Kalau Paman Gober sudah bicara, kamera tidak berani putus, meskipun kalimat-kalimatnya membuat bebek tertidur. Paman Gober selalu menganjurkan bebek bekerja keras, seperti dirinya, dan Paman Gober juga semakin sering menceritakan ulang jasa-jasanya kepada warga Kota Bebek.

"Coba, kalau aku tidak membangun jalan, air mancur, dan monumen, apa jadinya Kota Bebek?"

Tidak ada yang berani melawan. Tidak ada yang berani bicara.
"Paman Gober," kata Donal suatu hari, kenapa Paman tidak mengundurkan diri saja, pergi ke pertanian seperti Nenek, menyepi, dan merenungkan arti hidup? Sudah waktunya Paman tidak terlibat lagi dengan urusan duniawi."
"Lho, aku mau saja Donal. Aku mau hidup jauh dari Kota Bebek ini. Memancing, main golf, makan sayur asem, dan membaca butir-butir falsafah hidup bangsa bebek. Tapi, apa mungkin aku menolak untuk dicalonkan? Apa mungkin aku menolak kehormatan yang segenap unggas? Terus terang, sebenarnya sih aku lebih suka mengurus peternakan."

Maka hari-hari pun berlalu tanpa penggantian pimpinan. Demokrasi berjalan, tapi tidak memikirkan pimpinan, karena memang hanya ada satu pemimpin. Segenap pengurus bisa dipilih berganti-ganti, namun kedudukan Paman Gober tidak pernah dipertanyakan. Para pelajar seperti Kwik, Kwek, dan Kwak menjadi bingung bila membandingkannya dengan sejarah kepemimpinan kota lain. Kota Bebek seolah-olah memiliki pemimpin abadi. Generasi muda yang lahir setelah Paman Gober berkuasa bahkan sudah tidak mengerti lagi, apakah pemimpin itu memang bisa diganti. Mereka pikir keabadian Paman Gober sudah
semestinya.

Dan itulah celakanya kanak-kanak mencintai Paman Gober. Riwayat hidup Paman Gober dibikin komik dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bebek terkaya yang sangat pelit dan rakus ini menjadi teladan baru. Nenek Bebek tidak habis pikir, mengapa pendidikan, yang mestinya semakin canggih, membolehkan budi pekerti seperti itu. Generasi muda ingin meniru Paman Gober, menjadi bebek yang sekaya-kayanya, kalau bisa paling kaya di
dunia.

"Paling kaya di dunia?" Kwak bertanya.
"Iya, paling kaya di dunia," jawab Nenek Bebek.
"Apakah itu hakikat hidup bebek?"
"Bukan, itu hakikat hidup Paman Gober."

Sementara itu, nun di gudang uangnya yang sunyi, Paman Gober masih terus menghitung uangnya dari sen ke sen, tidak ditemani siapa-siapa. Matanya telah rabun. Bulunya sudah rontok. Sebetulnya ia sudah pikun, tapi ia bagai tak tergantikan.

Semua bebek menunggu kematian Paman Gober. Tiada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu-nunggu saat itu. Setiap kali penduduk Kota Bebek membuka koran, yang ingin mereka ketahui hanya satu: apakah hari ini Paman Gober sudah mati. Setiap pagi mereka berharap akan membaca berita Kematian Paman Gober, di halaman pertama.

In Memoriam : Pak Harto

Sunday, January 27th, 2008

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun

Soeharto

Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto

18 Juni 1921 - 27 Januari 2008

Presiden Republik Indonesia 1967 - 1998

Semoga arwah beliau diterima disisi-Nya dan perjuangan beliau untuk bangsa ini dapat diteruskan dan cita-cita beliau untuk bangsa ini dapat terwujudkan.

Amiin.

Angan di Awan

Monday, November 12th, 2007

Dia datang di tengah malam yang sunyi, kala aku terbuai di atas Awan. tadinya kuragu pertanda apakah gerangan? Mungkinkah dia kembali seperti dulu ketika dulu masih tersenyum ramah dan tangan terbuka menyambut. kucoba meraba pertanda itu, kuberanikan diri mendekat, kerelakan diri ini mendekat tak terlindungi. Ternyata aku salah, dia bukan dia dulu lagi. Dia saat ini adalah dia yang penuh waspada dan tak terjamah lagi. mungkin memang dia takkan pernah kembali. Hanya sebuah angan di atas awan. Sebuah angan yang indah yang entah sampai kapan.

Relieving Moment

Friday, November 9th, 2007

Beberapa hari terakhir memang saya merasa begitu banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor. Baik pekerjaan yang sudah lama terbengkalai, sedang dikerjakan maupun pekerjaan yang baru harus dikerjakan. Sedikit banyak membuat penat dan harus pulang malam hari. Ditambah lagi keadaan kota Jakarta yang semakin tidak bersahabat beberapa minggu terakhir ini. Kadang jam 11 malam baru bisa sampai di rumah.

Pada hari itu saya harus pulang agak malam sehingga baru sampai di rumah sekitar jam 11 malam. Wah bete juga pikirku. Setelah bersih-bersih badan dan siap untuk tidur hal-hal yang terjadi di kantor pada sepanjang hari itu tetap membuat mata belum mau terpejam. Kepala terasa agak migren dan otot-otot sekitar mata terasa tegang dan lelah. Mungkin karena harus memelototi komputer sehari itu.

Di tengah proses untuk meredam lelah itu, Aufar, buah hati saya, terbangun. Kupikir dia akan rewel dan nangis. Duuh… begadang lagi nih, pikirku. Ternyata dia melihat saya di sela-sela matanya yang sipit yang tambah sipit karena masih mengantuk. Dia tersenyum dengan memperlihatkan gigi-gigi kecilnya. “Ayah” sahutnya tiba-tiba. Ia terbangun, merangkak kearahku dan mendekati wajahku, “Mmmmuahh” tiba-tiba Aufar mengecup pipiku. Setelah itu  di mengucek-ngucek matanya  lalu kembali tertidur di sebelah saya. Pada momen itu aku merasa terharu sekaligus merasakan kelelahan yang mendera akhirnya luluh. Tidak terasa aku langsung tertidur tanpa teringat lagi hal-hal yang mengganggu pikiranku tadi. I love you, son…

Image211

Cerita kecil dari Hong Kong

Wednesday, October 10th, 2007

Sekitar akhir bulan September yang lalu, saya dan beberapa rekan kantor saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Danone Treasury Conference Asia Pacific yang tahun ini diselenggarakan di Hongkong. Event yang biasanya diadakan setiap tahun ini kini diadakan kembali setelah hamper 2 tahun vacuum karena berbagai project yang ada di region Asia Pacific. Merupakan hal yang baru bagi saya mengunjungi negerinya Jacky Chan ini. Karena hal barunya ini, saya dan rekan-rekan saya sudah mencoba membuat planning jauh-jauh hari agar kesempatan ini tidak hanya terlewatkan sia-sia. Hampir satu minggu lamanya kami menghabiskan waktu di sana. Beberapa hal unik yang terjadi disini. Mungkin kita sudah tahu dari berita-berita maupun media bahwa Hongkong adalah salah satu Negara tujuan pengiriman TKI yang terbesar. Sayangnya TKI yang dikirimkan ke Hongkong dan juga ke sebagian Negara lainnya adalah sebagai buruh kasar ataupun pembantu rumah tangga. Saya rasa itu benar, sejak keberangkatan dari Cengkareng sudah banyak orang-orang sebangsa kita dalam satu pesawat. Kata rekan saya nih, dari penampilannya saja sudah ketahuan mereka ke Hongkong sebagai apa. Hanya segelintir orang saja yang terlihat berangkat dalam rangka liburan atau bisnis (yah, mereka juga dalam rangka bisnis but you know what I mean lah). Tiba di Bandara Hongkong saja sudah beberapa kali terdengar wanita-wanita yang parasnya familiar karena berwajah melayu, dan akan terasa familiar lagi ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan… orang jawa medhok… saya langsung berpandangan dengan rekan saya… serasa di Semarang pikir saya.

Tadinya saya pikir ceritanya cukup sampai disitu, hanya bertemu, papasan atau sekedar mendengar percakapan dalam bahasa jawa di MTR (subway) tetapi ada yang lebih membuat geleng-geleng kepala dan membuat kami geli. Mungkin saking banyaknya TKI disana sampai-sampai kami menemukan ada spanduk peringatan dalam bahasa Indonesia yang bertuliskan “mohon tidak duduk atau bersandar di trotoar pejalan kaki” dengan tulisan yang besar dan dominan dibandingkan dengan tulisan lokal. Hongkong1Tulisan ini membuat geli karena hampir di semua tempat umum yang kami sambangi hampir sulit menemukan peringatan dalam bahasa Indonesia kecuali yang kami temukan di Causeway ay tu. Dari cerita-cerita yang saya dengar memang TKI-TKI kalau pada masa liburan atau weekend suka kongkow-kongkow di taman kota atau pinggir jalan, termasuk di pinggir-pinggir trotoar yang sepertinya kebiasaan tersebut bukan merupakan hal yang umum disana.Di balik kegelian kami ini, saya yakin semuanya bertanya dalam hati, bangga atau malu?

Gaya Tidur Anakku

Tuesday, September 18th, 2007

ImagePemandangan apa yang paling menentramkan dalam hidupku? Kalau ada orang yang bertanya demikian, pasti akan saya jawab bahwa pemandangan yang paling menentramkan adalah melihat anak saya tidur. Dengan gaya tidurnya yang khas, saya suka tersenyum-senyum sendiri kalau sedang mengamati dia. Subhanallah, dia semakin besar dan semakin lucu saja dari hari ke hari.

Dengan keadaan pekerjaan saya yang sekarang ini, saya paling tidak sabar untuk melihatnya. Tapi karena seringkali saya pulang sudah larut, maka ketika sampai rumah saya bertemu dengannya sudah dalam keadaan tidur. Namun demikian, pemandangan Aufar yang sedang tidur itu seketika meluruhkan rasa capek saya, rasa lelah saya dan bahkan mungkin melupakan sejenak masalah-masalah yang saya hadapi.

Image47Tidak jarang kalau sudah demikian, saya pun ingin ikut menemaninya tidur. Dan rasanya itu adalah tidur yang terindah yang saya alami. Walaupun sesekali kena tendang, ketindihan ataupun jadi terdesak ke tembok, pengalaman tersebut sungguh membahagiakan saya.

Banyak orang yang berkata bahwa menjadi seorang ayah akan merubah seseorang. Mungkin itu benar, dengan menjadi seorang ayah, saya jadi ingin berlama-lama di rumah, bermain dengan anak sepanjang hari. Andaikan saja saya sudah berada di Zona kebebasan Finansial. Mungkin bermain dengan anak sepanjang hari akan menjadi pilihan hidup saya. Jadi terlihat bodoh yang namanya mengejar karir dan achieve project. Karena kebahagiaan sejati ternyata adanya di rumah, dan itu bisa jadi melihat anak saya sedang tidur.

Dsc04206

Marhaban, Yaa Ramadhan…

Thursday, September 13th, 2007

PuasaAlhamdulillah, saya masih diberi umur dan kesempatan untuk mengalami bulan Ramadhan tahun ini. Berarti saya masih diberi kesempatan untuk membenahi dan memperbaiki diri ke arah yang lebih baik oleh Allah, SWT. Kadang saya merasa malu kepada-Nya. Betapa Dia begitu baik dan peduli kepada saya walaupun saya terkadang lupa dan melanggar perintah-Nya.

Terima kasih ya, Allah atas karunia-Mu ini. Terima kasih untuk kesempatan ini, untuk kesehatan ini, untuk kedamaian ini, untuk kehangatan ini dan semua yang tidak mungkin dituangkan dalam kata-kata maupun tulisan.

Buat teman-temanku disana, Mohon maaf kalau saya banyak salah sama kalian. Selamat berpuasa…