Archive for the ‘Religion’ Category

Gusti ALLAH tidak “ndeso”…

Friday, December 1st, 2006

Beragama tapi Korupsi

Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun.

"Cak Nun", kata sang penanya,

"misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?".

Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan".

"Tapi sampeyan

kan

dosa karena tidak sembahyang?" ,kejar si penanya.

"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu", jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk

surga tidak ngajak-ngajak" , katanya lagi. "Dan lagi belum tentu

Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan

sembahyang sebagai credit point pribadi".

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di masjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.

Kata Tuhan:

kalau engkau menolong orang sakit,

Akulah yang sakit itu.

Kalau engkau menegur orang yang kesepian,

Akulah yang kesepian itu.

Kalau engkau memberi makan orang kelaparan,

Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran,

menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan. Ketiga , orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal,

tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum

layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas).

Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Ekstrinsik Vs Intrinsik

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, "Ia di neraka". Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup.  Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya.

Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah

penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama.

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, …kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan .

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi.

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama.   

by : Emha Ainun Najib

Bisa Jadi Karena…

Thursday, April 6th, 2006

Kemarin saya mendengarkan sebuah Tausiyah yang menarik di masjid kantor saya. Tausiyah tersebut banyak membahas tentang berbahayanya namimah; menghasut, mengadu domba, menyebarkan keburukan orang lain, dalam kehidupan di dunia. Konon kata ustad, perilaku namimah inilah yang membuat tertolaknya doa seorang kyai bahkan seorang Nabi sekalipun di hadapan Allah, SWT. Pak Ustad tersebut mencuplik sebuah kisah yang terjadi pada jaman Nabi Musa AS.

Suatu ketika di daerah tempat Bani Israil menetap, terjadi kemarau panjang yang teramat sangat. Sudah bertahun-tahun cuaca begitu terik dan hujan tidak turun jua. Tanah ladang kering kerontang bahkan pecah-pecah dan banyak binatang ternak yang mati. Pada keadaan tersebut Nabi Musa AS mengumpulkan pengikutnya untuk melaksanakan shalat (menurut ustad, Nabi Musa AS dan umat terdahulu juga sholat) Istisqa atau sholat untuk meminta hujan.

Nabi Musa dan pengikutnya melakukan sholat istisqa selama tiga hari berturut-turut. Namun walaupun mereka sudah khusu’ dan bersungguh-sungguh melakukannya, Allah SWT belum berkenan mengabulkan permohonan mereka. Nabi Musa AS, satu-satunya Nabi yang dianugerahi kemampuan untuk berdialog langsung dengan Allah SWT bertanya kepada Allah, SWT :

“Ya Allah, mengapa tidak Engkau turunkan hujan kepada kami, padahal kami telah memohon dengan sungguh-sungguh kepada-Mu?” Tanya Musa.

Allah, SWT menjawab “Hai, Musa. Aku tidak akan mengabulkan doamu selama ada pengikutmu, yang menjadi bagian jemaat sholatmu, yang suka ber-namimah

Nabi Musa AS kembali bertanya “Siapa orang-orang itu, ya Allah? Tunjukkan kepada ku supaya bisa kuusir mereka dari barisan jemaatku”

Nabi Musa AS menginginkan Allah SWT untuk menunjukkan siapa orang yang suka ber-namimah itu supaya dapat dikeluarkan dari jamaah dan mereka dapat memohon kembali kepada Allah. Namun apa jawab Allah, SWT?

“Wahai, Musa. Kuperintahkan kepadamu untuk menjauhi namimah, bagaimana mungkin engkau menyuruhku untuk melakukan namimah?” Jawab Allah.

Allah SWT menolak menunjukkan siapa orang yang suka ber-namimah. Allah sendiri, sebagai Dzat yang Maha Agung dan Maha Suci tidak mau menunjukkan aib atau kesalahan orang lain bagaimana mungkin kita sebagai makhluknya yang lemah dan berkekurangan ini mudah melakukannya?

Lalu Nabi Musa AS bertanya kembali, “Ya, Allah. Apa yang harus hamba-Mu lakukan?”

Allah menjawab dengan singkat, “Bertobatlah”

Maka kembali Nabi Musa AS mengumpulkan jamaahnya untuk bertobat dan setelah itu melakukan sholat Istisqa. Dan berkumpullah mereka lalu bertobat.

Sesaat setelah mereka bertobat, maka turunlah hujan dari langit. Subhanallah.

Kisah tersebut seharusnya menjadi petunjuk dan pelajaran bagi kita semua bahwa dosa-dosa yang kita lakukan ini pada suatu titik membuat terhalangnya rahmat kepada kita. Perilaku namimah atau suka mencari-cari kesalahan dan menyebarkan kesalahan orang lain merupakan perbuatan yang tercela di mata Allah. Dalam kisah tersebut pun sudah dicontohkan bagaimana Allah sendiri tidak mau menunjukkan dosa dan kekurangan seseorang di hadapan orang lain namun kita sebagai hamba-Nya suka sekali melakukan mencari-cari kesalahan orang lain dan menyebarkannya.

Lihat saja keadaan sekarang. Perilaku mencari kesalahan orang lain begitu maraknya. Dan sebagian dari kita menikmati hal itu atau bahkan memperoleh keuntungan darinya. Lihat saja aneka acara infotainment di televisi yang sudah kelewat batas. Perilaku para politisi yang suka menunjukkan kesalahan pihak lain sedangkan kesalahan dirinya atau golongannya ditutup-tutupi dan dilindungi. Bisa jadi karena itulah kita sering berdoa namun tidak kunjung dikabulkan doa kita. Sudah tidak terhitung banyaknya istighotsah, doa bersama yang dipimpin oleh seorang kyai dilakukan. Namun keadaan kita masih saja terpuruk seperti sekarang ini.

Bisa jadi karena dosa kita, karena betapa kita senang sekali mengadu domba, mencari kesalahan orang lain dan menyebarkan kesalahan atau aib orang lain tersebut maka kita berada di garis belakang peradaban dunia. Bisa jadi karena hal itu maka banyak doa para kyai yang kita hormati tidak dikabulkan oleh Allah. Bisa Jadi karena namimah.

Kata Ustad Sanusi

Thursday, September 29th, 2005

SanusiHari rabu kemarin, tepatnya tanggal 28 September 2005, Ikatan Persaudaraan Haji di kantor saya mengundang ustad KH. Anwar Sanusi, seorang mubaligh pimpinan SMP dan SMA Islam Terpadu "Arafah" Cisarua, Bogor. Dengan penampilan yang sederhana, elegan namun kharismatik, Ustad yang sering muncul di layar kaca ini memberikan petuahnya yang menggugah dan sangat dalam. Tema yang disodorkan oleh panitia tentang persiapan dalam menghadapi bulan Ramadhan, terasa menjadi lebih esensial. Ustad Anwar Sanusi, dengan kata-katanya yang lembut dan penuh makna, benar-benar memberikan pedoman yang pokok tentang bagaimana menghadapi bulan Ramadhan, sebuah pedoman yang sangat penting yang jarang saya dapatkan dari pengajian-pengajian biasa.

Ustad Anwar membuka ceramah dengan bertanya apakah ada yang memiliki masalah dengan orang tuanya, ibu bapaknya? Kalau ada lebih baik tidak usah berpuasa karena mereka hanya akan memperoleh lapar dan dahaga saja. Seberapa besarnya kekhusukan dan dalam melaksanakan ibadah puasa selama kita dalam keadaan durhaka kepada orang tua, tidak akan sepeserpun nilai ibadah puasa kita yang akan dicatat oleh Allah, SWT. Sampai-sampai Ustad Anwar menceritakan kisah sahabat nabi yang selama 6 tahun berturut-turut melaksanakan sholat malam dan sholat sunat, ketika ia menghadapi sakaratul maut, sampai 3 hari ia tersiksa. Ternyata setelah diselidiki oleh Rasul, sahabat ini memiliki kesalahan di masa lalu yang menyebabkan ibunya sakit hati. Seorang yang saleh saja apabila durhaka kepada orang tuanya, dimurkai Allah apalagi kita yang senantiasa membangkang terhadap orang tua ya. Naudzubillahi min dzalik. Selain durhaka kepada orang tua, Ustad anwar juga menyarankan agar hubungan dengan tetangga juga harus diperbaiki menjelang bulan Ramadhan ini. Jangan ada sikap permusuhan dan dendam. Tetangga yang dimaksud disini adalah orang-orang di sekitar kita. Kanan-kiri-depan-belakang rumah kita atau kanan-kiri-depan-belakang ruang kerja kita. Karena sangat merugi orang yang bermusuhan di bulan Ramadhan. Pahala kedua orang yang saling bermusuhan sama-sama tidak diterima oleh Allah, SWT. Hal yang sama bila terjadi pertengkaran antara suami dan istri. Maka itu sang ustad berkata bahwa kita lebih baik jadi orang yang pemaaf agar hidup kita diliputi perasaan yang tenag dan damai, begitupun orang -orang disekitar kita.

Ada lagi hal menarik lain yang disampaikan oleh ustad Anwar Sanusi pada pengajian sore itu. Hendaknya kita menjaga diri kita perasaan dendam. Orang pertama yang merugi karena dendam yang kita pendam adalah diri kita sendiri. Lalu kita juga diperintahkan untuk jangan merasa sombong sama sekali. Sikap sombong yang bercokol di hati manusia akan menjerumuskannya ke lembah kenistaan. Sifat sombong akan mendorong manusia untuk melakukan semua kejahatan dan dosa yang dilarang oleh Allah, SWT. Ustad Sanusi mencontohkan, kurang mulia apa syaitan, yang dahulu bisa berhadapan langsung dengan Allah, sang pencipta alam semesta. Kesalahannya hanya satu yaitu sombong, sombong dengan tidak mau bersujud kepada Adam AS. Karena kesombongannya itulah maka ia terusir dari surga. Untuk itu sangat beratlah hidup seorang yang sombong.

Pengajian yang berlangsung sekitar satu jam itu benar-benar membuat saya berpikir dan terhenyak. Banyak sekali yang harus dipersiapkan untuk menghadapi bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat bagi umat yang beriman. Bulan Ramadhan bukan hanya puasa, bukan hanya beribadah lebih khusyuk dan rajin. Tapi bulan Ramadhan merupakan sarana untuk introspeksi dan memperbaiki diri agar kita kembali kepada fitrah, kepada kondisi saat kita dilahirkan oleh Ibu kita. Keadaan dimana kita tidak memiliki sifat sombong, tidak memiliki rasa dengki, tidak memiliki dendam, serta ikhlas. Terima kasih, Ustad. Insya Allah di Ramadhan kali ini, saya akan menjadi manusia yang lebih baik.

===================================================

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri" - QS Luqman : 18

===================================================

Ramadhan di depan mata

Tuesday, September 13th, 2005

RamadhanMuhammadiyah telah menetapkan bahwa bulan Ramadhan 1426 H akan jatuh pada tanggal 5 Oktober 2005. Ternyata waktu telah berlari begitu cepat. Serasa baru kemarin kita berpuasa menahan lapar dan dahaga, kemudian merayakan kemenangan Idul Fitri. Ternyata waktu telah berlalu begitu cepat. Serasa suasana haru dan khusyuk baru saja meliputi kita semua. Ternyata waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita merasa bersih dari dosa dan kesalahan. Setahun hampir berlalu. Bukan tidak mungkin dosa dan kesalahan yang kita lakukan telah bertumpuk-tumpuk. Sungguh tepatlah datangnya bulan Ramadhan dijadikan media untuk melebur dan menghapuskan dosa dan kesalahan yang sekaligus juga untuk mengenalkan kita kepada diri kita dan juga Allah, SWT maha pencipta sekalian alam.

Banyak harapan dan keinginan yang ada di setiap bulan Ramadhan. Kita seakan kembali untuk mengingat siapa diri kita, untuk apa kita berada di dunia, dan apa tujuan hidup kita. Di setiap Ramadhan, kita seakan-akan harus masuk TTC "Taqwa Training Centre" dengan kualifikasi Iman untuk bisa mengikutinya dan diikuti ikhlas, sabar dan tabah dalam menjalaninya. Di Setiap Ramadhanlah waktu untuk melakukan ibadah dan perbuatan baik yang akan diganjar berkali-kali lipat sehingga umur manusia modern yang pendek ini akan terasa berbobot amal ibadahnya. Sehingga amal manusia umat Muhammad tidak akan kalah dengan amal umat manusia sebelumnya yang berumur lebih panjang.

Menyambut bulan yang istimewa itu, apa persiapan yang sudah saya lakukan. Berdasarkan petunjuk menghadapi Ramadhan, persiapan yang harus dilakukan adalah :

1. Sejak dua bulan sebelum sang Ramadhan datang (Rajab) biasanya Rasulullah saw banyak berdoa sbb :

"Ya Allah berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan."

"Ya Allah sampaikanlah kami pada Ramadhan dengan aman, keimanan, keselamatan, Islam, kesehatan dan terhindar dari penyakit serta bantulah kami untuk melaksanakan shalat, puasa dan tilawah al-Quran padanya."

"Ya Allah bulan Ramadhan telah menaungi kami dan telah hadir, serahkanlah ia pada kami dan serahkanlah kami padanya, karuniakanlah kami kesanggupan untuk berpuasa, dan menegakkan malam-malamnya. Dan karuniakanlah kami kesungguhan kekuatan dan semangat serta jauhkanlah kami dari fitnah didalamnya".

2. Sejak sebulan sebelum sang Ramadhan tiba,(Sya’ban), hendaknya kita memperbanyak puasa (sunat), membaca Qur’an, dzikir, dan ibadah sunnat lainnya, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam hadits Bukhari-Muslim, Aisyah ra. berkata : "Tidaklah aku lihat Rasul menyempurnakan puasanya sebulan penuh kecuali pada Ramadhan dan tidak juga aku lihat beliau memperbanyak puasa sunnatnya kecuali di bulan Sya’ban". Memperbanyak aktivitas tilawah Quran, sebagaimana yang diungkapkan Anas bin Malik bahwa para sahabat jika memasuki bulan Sya’ban, mereka segera mengambil mushaf dan membacanya.

3. Meminta maaf kepada sesama manusia, sehingga ketika memasuki Ramadhan dosa kita dengan sesama manusia sudah terhapuskan dan di bulan Ramadhan tinggal menyelesaikan dosa kita pada Allah SWT saja, dan ketika hari raya Idul Fitri tiba kita benar-benar berada dalam keadaan fitrah (suci).

4. Bertafaqquh, yaitu memperdalam pengetahuan fiqih kita yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan, sehingga pelaksanaan ibadah dapat berjalan dengan sebaik mungkin syariat yang diajarkan Rasulullah SAW.

Sepertinya saya ketinggalan beberapa langkah untuk menyambutnya. Harus berbenah nih sekarang. Karena tamu agung itu segera datang.

==================================================

"Jibril datang kepadaku dan berkata ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapatkan ampunan, maka jika ia mati masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan : Amin!. Akupun mengatakan : Amin!"

(HR Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

There’s something about HER

Thursday, August 4th, 2005

Kaum Feminis dimanapun berada sering kali menghujat ketidakadilan yang dirasanya sangat tidak berpihak kepadanya. Padahal menurut saya, sejatinya perbedaan yang ada antara laki-laki dan perempuan bukanlah hal yang untuk diperdebatkan dan menjadikannya "bahan perang" antar manusia yang tidak ada habisnya. Sebenarnya ada konsep dasar yang berbeda yang dipegang oleh kaum feminis dan ajaran agama. Kaum feminis hanya mendasarkan pemikirannya pada hak asasi (masih jadi perdebatan sampai sekarang, hak asasi apa aja sih?), persamaan gender (don’t know for sure), demokrasi (yang diklaim sbg sistem terbaik di dunia), dan segala istilah yang baru dikenal dalam 1,5 abad terakhir, kadang dia lupa hakikat dirinya sebagai makhluk Tuhan yang kecil.

Saya bukan orang yang iri dan dengki dengan kemajuan perempuan. Saya bahkan kagum dan bangga dengan perempuan-perempuan yang bisa berbicara dan beraktivitas banyak di luar, terutama perempuan-perempuan Indonesia. Tapi yang saya tidak habis pikir kenapa pemikiran kebebasan yang diberikan itu terkadang melangkahi kodrat yang sudah diberikan oleh yang Maha Kuasa? Di beberapa kesempatan, saya suka bertemu dengan perempuan yang terkesan memprotes keadaan dirinya yang dilahirkan sebagai perempuan, yang menurut saya, sudahlah, dari jaman Kakek Adam dan nenek Hawa, Allah menciptakan mereka setara kok. Hanya diberi peran yang berbeda. Jadi kenapa menggugat? Siapa yang mau kalian gugat?

Saya sampai saat ini masih heran, mungkin bagi mereka saya hanya pria yang rendah diri atau tak berpendidikan. Tapi saya punya keyakinan satu hal bahwa generasi kelangsungan generasi penerus ada di tangan mereka. Kemauan mereka untuk melangsungkan generasi ini lah tumpuan harapan masa depan bersama.

Saya tidak membenci kaum Feminis hanya terkejut saya bagaimana sikap dan kelakuan mereka yang seolah-olah lebih tahu dan lebih pintar daripada Tuhan.

I got an inspiration for you:

Lg_dicinaWahai saudariku, Allah telah memuliakanmu dan mengangkat tinggi kedudukanmu, Ia menginginkan dirimu terpelihara dan terjaga dari tangan-tangan jahat yang ingin menjerumuskanmu ke lembah kehinaan dan memanfaatkan kelemahanmu, oleh karena itu, Ia menetapkan hukum dan peraturan yang dapat menjamin jati dirimu sebagai seorang wanita, karena engkau bukanlah laki-laki dan laki-laki juga bukanlah dirimu, Allah SWT

berfirman:

"… dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan?"(QS. 3:36)

Allah memang menghendaki menciptakan ciptaan-Nya terdiri dari jenis laki-laki dan wanita, Ia berfirman:

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah". (QS. 51:49)

Keduanya diciptakan Allah dengan sifat dan karakter yang berbeda untuk saling melengkapi satu sama lain bukan saling berhadapan dan bersaing dalam kehidupan, wilayah peranmu berbeda dengan saudara kandungmu itu, semua itu Allah lakukan semata-mata demi menjadikanmu manusia yang terhormat, berwibawa dan mulia.

Wahai saudariku, aku ingin mengajakmu merenungkan beberapa hukum yang Ia syariatkan untukmu demi memelihara kemulian jatidirimu sebagai wanita.

Pertama, Allah menghalalkan kepadamu memperhias diri dengan perhiasan dari emas dan sutra murni yang Ia haramkan bagi kaum laki-laki, Rasulullah ` bersabda: "Kedua perhiasan ini (emas dan sutra murni) diharamkan bagi laki-laki dan dihalalkan bagi wanita" (HR. Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib a.). Ia halalkan semua ini untukmu demi menjaga kecantikanmu dan sifatmu yang lembut.

Kedua, Sebaliknya, Allah mengharamkan segala sesuatu yang dapat menghilangkan sifat kewanitaanmu yang halus dan lembut itu baik dalam berpakaian, bertingkah dan perilaku yang menyerupai laki-laki, demikian juga laki-laki diharamkan menyerupai wanita dalam pakaian, gerak dan tingkah laku, karena hal itu tidak sesuai dengan jiwa dan tabiatnya.

Rasulullah` bersabda:

"Allah melaknati laki-laki memakai pakaian wanita dan wanita memakai pakaian laki-laki" (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah ra.)

Ketiga, Allah melindungi kelemahanmu dan menempatkanmu selalu dalam naungan laki-laki, Ia tidak menuntutmu mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhanmu atau kebutuhan orang lain, tetapi kaum laki-lakilah yang Ia wajibkan memenuhi semua kebutuhan hidupmu, karena Ia tak ingin engkau bergulat dalam kehidupan demi sesuap nasi agar engkau tak terhina. Jika engkau seorang gadis, ayahmu dan saudara laki-lakimulah yang memenuhi kebutuhanmu, jika engkau seorang ibu, anakmu yang laki-laki yang dituntut menjamin kebutuhan hidupmu dan jika engkau seorang istri, suamimu yang harus bertanggung jawab atas semua kebutuhanmu, lalu jika tak ada seorangpun diantara mereka yang menjamin kebutuhan hidupmu maka Allah mewajibkan kepada pemerintah memenuhi semua hajat hidupmu yang asasi.

Keempat, Allah memerintahkan kepadamu menjaga pandanganmu terhadap lawan jenismu agar syetan tidak menjerumuskanmu kedalam kubangan yang hina.

Allah berfirman:

"Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka?" (QS. 24:31)

Kelima, Allah memerintahkan kepadamu menjaga tubuhmu dari pelecehan tangan-tangan jahil dan penghinaan mata-mata yang usil dengan membalutnya dengan pakaian mulia kecuali muka dan telapak tanganmu.

Allah berfirman:

"..dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka?"(QS. 24:31)

Keenam, Allah memerintahkan kepadamu tidak menampakan perhiasanmu yang tersembunyi seperti rambut, leher, betis dan lengan tanganmu kecuali kepada suamimu, dan orang-orang yang termasuk mahram bagimu.

Allah berfirman yang artinya: "… dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…" (QS. 24:31)

Ketujuh, Allah memerintahkan kepadamu berjalan dengan santai dan berbicara dengan nada rendah sehingga engkau nampak berwibawa dan terhormat. Allah berfirman:

"…Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…" (QS. 24:31)

"..Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya?"(QS. 33:32)

Kedelapan, Allah memerintahkan kepadamu menghindari segala sesuatu yang dapat menarik perhatian kaum laki-laki kepada dirimu dan tergoda dengan penampilanmu dengan mengikuti prilaku kaum jahiliyah pertama atau kaum jahiliyah abad ini.

Rasulullah ` bersabda:

"Wanita yang memakai pafum lalu keluar dari rumahnya agar orang-orang mencium aromanya adalah penzina" (HR. Abu Daud)

Kesembilan, Allah melarangmu berduaan dengan laki-laki selain suami dan mahrammu agar syetan tidak menjatuhkanmu ke jurang kehinaan.

Rasulullah ` bersabda:

"Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita dan janganlah pula ia pergi kecuali didampingi mahramnya" (Muttafaqun’alaih)

Saudariku, jika engkau renungkan semua perintah Allah ini dengan hati nurani yang jernih dan jujur, maka engkau akan mendapatkan bahwa Allah sungguh telah menempatkan dirimu bagaikan intan mutiara yang tersimpan di tempat yang terjaga yang tidak boleh dijamah oleh tangan orang yang di hatinya ada penyakit, engkau adalah makhluk mulia dan terhormat di dalam Islam.

Taken from Islamic Mailing List.

Kaum Wanita di Hadapan Allah, SWT

Monday, July 25th, 2005

Saya memperoleh email ini, dari sebuah milis. Isinya tentang kedudukan wanita di dalam Islam. Sering saya jengah dengan pendapat kaum wanita liberal terutama wanita barat, atau wanita yang selalu condong ke barat, yang mendewakan emansipasi, yang melihat harkat dan martabat dirinya hanya di dunia saja. Alhamdulillah saya memperoleh pencerahan hari ini. Dan semoga saya bisa membaginya untuk wanita-wanita yang saya sayangi, ibu, istri, adik, saudara-saudara perempuan, teman dan sahabat-sahabat perempuan saya bahwa sesungguhnya Allah sangat mencintai mereka tanpa syarat, tanpa diskriminasi, tanpa mereka minta. Semoga tulisan ini membuka pintu hatimu untuk lebih dekat kepada-Nya. Untuk kaum pria, agar tulisan ini disebarkan ke setiap penjuru dunia, kepada saudara perempuan kalian yang kalian sayangi, semoga akan membuatnya semakin dekat kepada Allah.

==============================

Kaum feminis bilang susah jadi wanita ISLAM,

Lihat saja peraturan dibawah ini :

1.. Wanita auratnya lebih susah dijaga berbanding lelaki.

2.. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

3.. Wanita saksinya kurang berbanding lelaki.

4.. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.

5.. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

6.. Wanita wajib taat kpd suaminya tetapi suami tak perlu taat pd isterinya.

7.. talak terletak di tgn suami dan bukan isteri.

8.. Wanita kurang dlm beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.

makanya mereka nggak capek-capeknya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA ISLAM"

Pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya)??

1. Benda yg mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan? Itulah bandingannya dgn seorg wanita.

2.Wanita perlu taat kpd suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?

3.Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki menerima pusaka perlu menggunakan hartanya utk isteri dan anak-anak.

4.Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi setiap saat dia didoakan oleh segala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di mukabumi ini, dan matinya jika karena melahirkan adalah syahid.

5.Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita ini: Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.

6.Manakala seorang wanita pula, tanggungjawab terhadapnya ditanggung oleh 4 org lelaki ini: suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

7.Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana mana pintu Syurga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja :

- shalat 5 waktu,

- shaum di bulan Ramadhan,

- taat pada suaminya dan

- menjaga kehormatannya.

8.Seorg lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH akan turut menerima pahala seperti pahala org pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.

Masya ALLAH … demikian sayangnya ALLAH pada wanita bukan?

taken from Sabili mailing list

Dongeng tentang Sholat (untuk saya)

Wednesday, June 15th, 2005

Ada seorang manusia yang bertemu dengan setan di waktu subuh.Entah bagaimanaawalnya, akhirnya merekaberdua sepakat mengikat tali persahabatan. Ketika waktu subuh berakhir dan orang itu tidak mengerjakan shalat, maka setan pun sambil tersenyum bergumam, "Orang ini memang boleh menjadi sahabatku..!"

Begitu juga ketika waktu Zuhur orang ini tidak mengerjakan shalat, setan tersenyum lebar sambil membatin, "Rupanya inilah bakal teman sejatiku di akhirat nanti..!"

Ketika waktu ashar hampir habis tetapi temannya itu dilihatnya masih juga asik dengan kegiatannya, setan mulai terdiam……

Kemudian ketika datang waktunya magrib,temannya itu ternyata tidak shalat juga, maka setan nampak mulai gelisah, senyumnya sudah berubah menjadi kecut. Dari wajahnya nampak bahwa ia seolah-olah sedang mengingat-ngingat sesuatu.

Dan akhirnya ketika dilihatnya sahabatnya itu tidak juga mengerjakan shalat Isya, maka setan itu sangat panik. Ia rupanya tidak bisa menahan diri lagi,dihampirinya sahabatnya yang manusia itu sambil berkata dengan penuh ketakutan, "Wahai sobat, aku terpaksa memutuskan persahabatan kita !" .Dengan keheranan manusia ini bertanya, "Kenapa engkau ingkar janji bukankah baru tadi pagi kita berjanji akan menjadi sahabat ?".

"Aku takut !",jawab setan dengan suara gemetar."Nenek moyang ku saja yang dulu hanya sekali membangkang pada perintah-Nya, yaitu ketika menolak disuruh sujud pada "Adam", telah dilaknat-Nya; apalagi engkau yang hari ini saja kusaksikan telah lima kali membangkang untuk bersujud pada-Nya (Sujud pada Allah). Tidak terbayangkan olehku bagaimana besarnya murka Allah kepadamu !", kata setan sambil beredar pergi.

"Sebarkanlah ajaranku walau hanya satu ayat" (Al Hadits)

21 APRIL 2005 HARI YANG ISTIMEWA

Wednesday, April 20th, 2005

21 APRIL 2005 HARI YANG ISTIMEWA

Hari ini 21 April 2005 merupakan hari yang Istimewa, karena hari ini bertepatan dengan hari kelahiran seorang yang kita cintai sepanjang hayat. Kelahiran seorang manusia sebetulnya merupakan perkara yang biasa saja. Bagaimana tidak? Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap menit dunia ini tidak henti-hentinya menyambut bayi-bayi manusia yang baru lahir. Karena perkara yang biasa-biasa saja, tidak terasa bahwa dunia ini telah dihuni lebih dari 6 miliar jiwa.

Karena itulah barangkali, Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw., tidak menjadikan hari kelahirannya sebagai hari yang istimewa. Demikian juga keluarga maupun para sahabat beliau. Wajar jika dalam Sirah Nabi saw. dan dalam sejarah otentik para sahabat beliau, sangat sulit ditemukan tentang adanya fragmen Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw., baik yang dilakukan oleh Nabi saw. sendiri maupun oleh para sahabat beliau. Sebab, sebagaimana manusia lainnya, secara fisik atau lahiriah, memang tidak ada yang istimewa pada diri Muhammad SAW sebagai manusia, selain beliau adalah seorang Arab dari keturunan yang dimuliakan di tengah-tengah kaumnya. Wajarlah jika Allah SWT., melalui lisan beliau sendiri, berfirman:
Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian…” (QS Fushshilat [41]: 6).

Lalu mengapa setiap tahun kaum Muslim saat ini begitu antusias memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.; sesuatu yang bahkan tidak dilakukan oleh Nabi saw. sendiri dan para sahabat beliau?

Berbagai jawaban atau alasan dari mereka yang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. biasanya bermuara pada kesimpulan, bahwa Muhammad saw. memang manusia biasa, tetapi beliau adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu; beliau adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati. Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. sendiri tidak lain merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta’zhiman wa takriman) terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam.

Jika memang demikian kenyataannya, kita dapat memahami makna Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. yang diselenggarakan setiap tahun oleh sebagian kaum Muslim saat ini, yakni sebagai bentuk pengagungan dan penghormatan beliau dalam kapasitasnya sebagai nabi dan rasul Allah. Itulah yang menjadikan beliau sangat istimewa dibandingkan dengan manusia yang lain. Keistimewaan beliau tidak lain karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT, yang tidak diberikan kepada kebanyakan manusia lainnya.
Allah SWT berfirman (masih dalam surah dan ayat yang sama):
Katakanlah, “Sungguh, aku ini manusia biasa seperti kalian. (Hanya saja) aku telah diberi wahyu, bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, tetaplah kalian istiqamah pada jalan yang menuju kepada-Nya.” (QS Fushshilat [41]: 6).

Makna Kelahiran Muhammad saw.

Kelahiran Muhammad saw. tentu tidaklah bermakna apa-apa seandainya beliau tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah, yang bertugas untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada umat manusia, agar mereka mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan-Nya kepada Nabi-Nya itu. Karena itu, Peringatan Maulid Nabi saw. pun tidak akan bermakna apa-apa-selain sebagai aktivitas ritual dan rutinitas belaka-jika kaum Muslim tidak mau diatur oleh wahyu Allah, yakni al-Quran dan as-Sunnah, yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ke tengah-tengah mereka. Sebab, Allah SWT telah berfirman:
Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah; apa saja yang dilarangnya atas kalian, tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).

Lebih dari itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad saw.-yang antara lain diekspresikan dengan Peringatan Maulid Nabi saw.-sejatinya merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad saw. adalah kekasih-Nya. Jika memang demikian kenyataannya, maka kaum Muslim wajib mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya saja.

Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS Ali Imran [3]: 31) .

Dalam ayat di atas, frasa fattabi’uni (ikutilah aku) bermakna umum, karena memang tidak ada indikasi adanya pengkhususan (takhshish), pembatasan (taqyid), atau penekanan (tahsyir) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi saw. Demikian juga dalam firman Allah SWT berikut:
Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik. (QS al-Ahzab [33]: 21).

Ayat di atas juga bermakna umum; tidak membatasi bahwa keteladanan Rasulullah saw. yang baik hanya dalam masalah ibadah ritual atau akhlaknya saja.

Dengan demikian, kaum Muslim dituntut untuk mengikuti dan meneladani Nabi Muhammad saw. dalam seluruh perilakunya: mulai dari akidah dan ibadahnya; makanan/minuman, pakaian, dan akhlaknya; hingga berbagai muamalah yang dilakukannya seperti dalam bidang ekonomi, sosial, politik, pendidikan, hukum, dan pemerintahan. Sebab, Rasulullah saw. sendiri tidak hanya mengajari kita bagaimana mengucapkan syahadat serta melaksanakan shalat, shaum, zakat, dan haji secara benar; tetapi juga mengajarkan bagaimana mencari nafkah, melakukan transaksi ekonomi, menjalani kehidupan sosial, menjalankan pendidikan, melaksanakan aktivitas politik (pengaturan masyarakat), menerapkan sanksi-sanksi hukum (’uqubat) bagi pelaku kriminal, dan mengatur pemerintahan/negara secara benar. Lalu, apakah memang Rasulullah saw. hanya layak diikuti dan diteladani dalam masalah ibadah ritual dan akhlaknya saja, tidak dalam perkara-perkara lainnya? Tentu saja tidak.

Jika demikian, mengapa saat ini kita tidak mau meninggalkan segala perbuatan maksiat, tidak mau meninggalkan riba dan transaksi-transaksi batil yang dibuat oleh sistem kapitalisme; tidak mau mengatur urusan sosial dengan aturan Islam; tidak mau menjalankan pendidikan dan politik Islam; tidak mau menerapkan sanksi-sanksi hukum Islam, juga tidak mau mengatur pemerintahan/negara dengan aturan-aturan Islam? Bukankah semua itu justru pernah dipraktikan oleh Rasulullah saw. selama bertahun-tahun di Madinah dalam kedudukannya sebagai kepala Negara Islam ?

Kelahiran Nabi saw.: Kelahiran Masyarakat Baru

Sebagaimana diketahui, masa sebelum Islam adalah masa kegelapan, dan masyarakat sebelum Islam adalah masyarakat Jahiliah. Akan tetapi, sejak kelahiran (maulid) Muhammad saw. di tengah-tengah mereka, yang kemudian diangkat oleh Allah sebagai nabi dan rasul pembawa risalah Islam ke tengah-tengah mereka, dalam waktu hanya 23 tahun, masa kegelapan mereka berakhir digantikan dengan masa ‘cahaya’; masyarakat Jahiliah terkubur digantikan dengan lahirnya masyarakat baru, yakni masyarakat Islam.

Sejak itu, Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin di segala bidang. Ia memimpin umat di masjid, di pemerintahan, bahkan di medan pertempuran. Ia tampak seperti seorang dokter jiwa yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi jiwa yang memancarkan peradaban. Ia juga seorang politikus yang berhasil mempersatukan suku-suku Arab hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas ibadahnya telah mengantarkan jiwa para pengikutnya ke alam kelezatan samawiah dan keindahan suasana ilahiah.

Karena itu, kita bisa menyimpulkan bahwa makna terpenting dari kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah keberadaannya yang telah mampu membidani kelahiran masyarakat baru, yakni masyarakat Islam; sebuah masyarakat yang tatanan kehidupannya diatur seluruhnya oleh aturan-aturan Islam.

Sebuah Renungan

Dari paparan di atas, jelas bahwa Peringatan Maulid Nabi saw. sejatinya dijadikan momentum bagi kaum Muslim untuk terus berusaha melahirkan kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, sebagaimana yang pernah dibidani kelahirannya oleh Rasulullah saw. di Madinah. Sebab, siapapun tahu, masyarakat sekarang tidak ada bedanya dengan masyarakat Arab pra-Islam, yakni sama-sama Jahiliah. Sebagaimana masa Jahiliah dulu, saat ini pun aturan-aturan Islam tidak diterapkan.

Karena aturan-aturan Islam-sebagaimana aturan-aturan lain-tidak mungkin tegak tanpa adanya negara, maka menegakkan negara yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam adalah keniscayaan. Inilah juga yang disadari benar oleh Rasulullah saw. sejak awal dakwahnya. Rasulullah tidak hanya menyeru manusia agar beribadah secara ritual kepada Allah dan berakhlak baik, tetapi juga menyeru mereka seluruhnya agar menerapkan semua aturan-aturan Allah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Sejak awal, bahkan para pemuka bangsa Arab saat itu menyadari, bahwa secara politik dakwah Rasulullah saw. akan mengancam kedudukan dan kekuasaan mereka. Itulah yang menjadi alasan orang-orang seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, dan para pemuka bangsa Arab lainnya sangat keras menentang dakwah Rasulullah saw.

Akan tetapi, semua penentangan itu akhirnya dapat diatasi oleh Rasulullah sampai beliau berhasil menegakkan kekuasaannya di Madinah sekaligus melibas kekuasaan mereka di Makkah. Rasulullah saw. bahkan berhasil menegakkan kekuasaan Islam sekaligus menghancurkan kekuasaan orang-orang kafir di seluruh jazirah Arab.

Walhasil, dakwah seperti itulah yang juga harus dilakukan oleh kaum Muslim saat ini, yakni dakwah untuk menegakkan kekuasaan Islam yang akan memberlakukan aturan-aturan Islam. Hanya dengan itulah Peringatan Maulid Nabi saw. yang diselenggarakan setiap tahun akan jauh lebih bermakna.

Sebagai catatan akhir, marilah kita sambut seruan dakwah Islam dengan melibatkan diri bersama-sama dengan para pengemban dakwah untuk menegakkan syariat Islam dan membidani lahirnya kembali masyarakat baru, yakni masyarakat Islam, dalam wadah Daulah Khilafah Islamiyah .

Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-Nya jika Allah dan Rasul-Nya menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

Taken without permission from Sabili Mailist April 21, 2005

Mengesakan Allah : Hanya Menyembah Allah Semata

Monday, April 11th, 2005

Nasihat hari ini. disela-sela kesibukan duniawi, terima kasih atas nasihat yang berharga ini, mengingatkanku tentang hakekat agama sebenar-benarnya.

Dari www.nizami.org:

Dasar Islam: Tauhid - Mengesakan Allah

Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah. Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi, bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya, yaitu Allah!

"Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?" [Al Kahfi:37]

"Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min."[Al 'Ankabuut:44]

Setelah mempercayai keberadaan Tuhan, ummat Islam wajib beriman bahwa Tuhan itu satu. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah:

"Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa".

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya"." [Al Kahfi:110]

Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim juga mengajarkan tauhid kepada ummatnya, yaitu agar hanya menyembah satu Tuhan, yaitu: Allah, dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:

"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)," [An Nahl:120]

"Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif." dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." [An Nahl:123]

Luqman yang saleh pun dalam Al Qur’an diceritakan menasehati agar anaknya tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar"." [Luqman:13]

Seharusnya setiap orang tua mencontoh Luqman untukmenanamkan ajaran Tauhid kepada setiap anaknya.

Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seorang masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya:

"Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji " [HR Bukhori-Muslim]

Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta:

"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." [Al An'aam:79]

"Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka." [Al An'aam:1]

Jika ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah, misalnya berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena berhala itu bukanlah Tuhan yang Maha Pencipta. Justru berhala itulah yang dibuat oleh manusia:

"Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang." [Al A'raaf:191]

"Katakanlah: "Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa`at?" Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."[Al Maa-idah:76]

Menyembah Yesus atau Isa sebagai Tuhan adalah dosa yang amat besar. Tuhan adalah Pencipta alam semesta, sedang Yesus atau Isa bukanlah pencipta alam semesta. Yesus atau Isa adalah seorang manusia yang dilahirkan dari rahim ibunya, Siti Maryam:

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun." [Al Maa-idah:72]

Sesungguhnya, kafirlah orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu bisa beranak dan dilahirkan layaknya manusia, sehingga ada lebih dari 1 Tuhan seperti Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Bagaimana Allah bisa punya anak, padahal dia tidak punya istri? Adakah (na’udzubillah min dzalik!) mereka mengira bahwa Tuhan berzina dengan Maryam sehingga punya anak di luar nikah? Allah SWT membantah kebohongan itu:

"Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu." [Al An'aam:101]

Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:

"Katakanlah: Allah itu Satu

Allah tempat meminta.

Dia tidak beranak dan tidak diperanakan

Dan tak ada satu pun yang setara dengannya"

[Al Ikhlas 1-4]

Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan adalah dosa yang amat besar:

"Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." [Al Hajj:31]

Jelas sekali bukan ayat Al Qur’an di atas bagi orang-orang yang berpikir atau berakal bahwa syirik itu adalah perbuatan sesat dan dosa. Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan itu adalah dosa yang tidak terampuni. Ini adalah perkataan Allah SWT sendiri yang tertulis di dalam kitab suci Al Qur’an:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik,dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." [An Nisaa':48]

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." [An Nisaa':116]

Jika seseorang melakukan kemusyrikan, maka sia-sialah amalnya meski mereka banyak berbuat hal-hal yang dianggap oleh manusia "baik":

"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." [Al An'aam:88]

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." [Az Zumar:65]

"Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka." [At Taubah:17]

Sesungguhnya, Tauhid (Mengakui Tuhan itu ada dan satu, yaitu Allah SWT), adalah hal paling penting dan pertama-tama yang harus dipelajari oleh seorang Muslim. Nabi Muhammad SAW selama 13 tahun masa-masa pertama kenabiannya, gigih menyampaikan ajaran Tauhid kepada orang-orang kafir Quraisy, begitu pula setelahnya.

Saya melihat banyak orang yang terlalu fokus pada masalah fikih, tasauf, dan lain-lain, tapi kurang mengkaji masalah Tauhid. Padahal Tauhid ini adalah dasar dari agama Islam. Akibatnya, aqidah ummat Islam jadi lemah. Betapa banyak orang yang sholat, tapi tetap korupsi, betapa banyak orang yang haji tapi tetap berzinah, dan bahkan ada muslimah yang berjilbab, akhirnya nikah dengan orang kafir dan menjadi kafir pula. Banyak orang yang murtad karena kurang beres Tauhid-nya. Itulah jika kita terlalu sibuk pada hal sekunder, sehingga lupa pada hal yang primer: Tauhid!

7 Kalimat Allah

Monday, April 4th, 2005

" Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut "

1. Mengucap Bismillah pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap Alhamdulillah pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap Astaghfirullah jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap Insya-Allah jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu yang tak disukai dan tak diingini.
6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.
7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.

Dari tafsir hanafi.

Mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat. Mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu. Mudah-mudahan jadi boleh, karena sudah biasa.