Archive for the ‘Film’ Category

3:10 to Yuma

Monday, February 4th, 2008

Yuma3:10 to Yuma (Three ten to Yuma) bisa jadi merupakan salah satu film western yang terbaik. Ceritanya memang tipikal sekali dengan film-film western lainnya. Ada bandit, ada jagoan, jago tembak, kejar-kejaran pake Kuda, yah pokoknya khas deh. Yang membuat berbeda dari film 3.10 to Yuma ini adalah kekuatan ceritanya. Saya tadinya kurang tertarik dengan judul dari film ini. 3:10 to Yuma, maksudnya apa ya. Terus terang ketika mulai nonton, saya malas untuk beranjak dari depan layer TV. Benar-benar membuat penasaran bagaimana akhir dari ceritanya.

Ceritanya berkisah tentang seorang pemilik ladang/ rancher yang mantan milisi di perang saudara AS, Daniel Evans (Christian Bale) dalam berjuang untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Suatu ketika, dalam sebuah kebetulan, dia mendapat kesempatan untuk bersama-sama warga kota Bisbee untuk mengirimkan bandit yang paling dicari seluruh negeri, Ben Wade (Russel Crowe), yang tertangkap di kota tersebut, ke Contention untuk dinaikkan ke Kereta Api menuju penjara Yuma. Untuk melaksanakan tugas tersebut Evans dijanjikan untuk memperoleh upah sebesar USD 200. Jumlah yang menurutnya cukup untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Yang menarik adalah yang mengawal Ben Wade adalah warga biasa yang tidak semua adalah penegak hukum. Daniel Evans sendiri walaupun mantan tentara tapi dia hanya memiliki satu kaki. Sehingga ketegangan-ketegangan muncul dalam proses perjalanan menuju Contention.

Ben wade juga bukan penjahat sembarangan. Dia pandai, lihai dan jago tembak pula. Satu persatu tim pengantar dibunuhnya dengan caranya sendiri. Keadaan bertambah runyam dengan kejaran dari gang Ben Wade yang bersikeras untuk membebaskan bos mereka. Cerita dari 3:10 to Yuma ini menjadi berwarna karena ceritanya bukan hanya duel baku tembak antara jagoan dengan penjahat, tetapi bagaimana Daniel Evans yang seorang biasa berkeras untuk melaksanakan tugasnya mengawal Ben Wade untuk dibawa ke Penjara. Bukan tugas yang ringan untuk seorang seperti Dan Evans. Terlebih lagi di saat mereka sudah tinggal menunggu kereta menuju Yuma menjelang pukul tiga lewat sepuluh. Dan Evans dikepung oleh gang Ben Wade yang dibantu warga kota Contention yang tergiur dengan imbalan 200 Dollar untuk membunuh pengawal Ben Wade.

Salah satu plot yang saya suka adalah ketika semua orang mundur untuk mengawal Ben Wade, tapi Evans tetap tidak bergeming bahkan dia minta anaknya yang ikut bersamanya untuk meninggalkannya sambil berkata ingatlah ayahmu, seorang yang mengawal Ben Wade, selagi orang lain tidak ada. Benar-benar mencerminkan jiwa ksatria sejati yang tidak mundur dan gentar dalam tekanan lawan.

Hal yang bisa diambil pelajaran dari film ini adalah bila kita memiliki suatu tujuan capailah tujuan tersebut dengan usaha yang keras dan mulia. Apapun resikonya pantang untuk mundur. Terkadang dibutuhkan pengorbanan diri sendiri untuk mengambil tanggung jawab menciptakan keadaan yang lebih baik.

Bagi yang senang ataupun yang kangen dengan film-film western, 3:10 to Yuma bisa menjadi obat kangen yang menghibur dan menginspirasi.

======================================================

"I ain’t never been no hero, Wade. The only battle I seen, we was in retreat. My foot got shot off by one of my own men. You try telling that story to your boy. See how he he looks at you then"

Daniel Evans (Christian Bale) in 3:10 to Yuma

======================================================

Nonton Nagabonar Jadi 2

Saturday, April 21st, 2007

Nbj2

Minggu yang lalu, saya bersama istri saya menyempatkan diri untuk menonton film Nagabonar jadi 2 di Cineplex. Film ini merupakan sekuel dari film Nagabonar produksi 1986 yang pada waktu itu sukses di pasaran dan menyabet piala Citra (FFI) tahun 1987. Mungkin film ini menjadi eksepsional bagi saya untuk menyaksikan film Indonesia di sebuah Sineplek yang harganya lumayan mahal juga ya. Biasanya saya kurang berkenan nonton film Nasional di Bioskop kecuali waktu kecil, jaman-jaman nonton film warkop atau perjuangan bareng-bareng satu sekolahan pas SD. Kenapa tertarik? Entahlah ada sesuatu dalam film ini pikirku.

Dan ternyata benar, Nagabonar jadi 2 bukan sekedar film Indonesia biasa. Film hasil produksi kerjasama antara PT Demi Gisela Citra Sinema dengan PT Bumi Prasidi Bi-Epsi ini benar-benar menarik dan wajib menjadi tontonan anak bangsa. Film yang dipersembahkan untuk alm Drs. Asrul Sani, pereka tokoh Nagabonar, seorang mantan copet yang diangkat menjadi Jenderal saat perang kemerdekaan ini diperankan oleh Deddy Mizwar sebagai Nagabonar dan Tora Sudiro sebagai Bonaga, anak semata wayang Nagabonar. Kehadiran mereka menjadi daya tarik film ini. Tetapi bukan hanya itu, kehadiran Wulan Guritno, Ibu muda nan cantik itu, sebagai Monita juga menjadi daya tarik sendiri. Belum lagi bintang-bintang pendukung lainnya baik sebagai supporting actor maupun tampil cameo membuat film ini unik.

Film ini menceritakan kehidupan Nagabonar setelah perang kemerdekaan dimana dia dianugerahi anak semata wayang yang harus dia besarkan sendiri setelah kematian istrinya. Di film ini digambarkan bahwa Nagabonar tinggal di Medan, hidup sendiri di tengah hamparan kebun kelapa sawit miliknya. Kegiatannya saat ini adalah merawat kuburan milik orang-orang yang dicintainya: Kirana, istrinya, Mak-nya, dan si Bujang, sahabat dekatnya yang telah dilarangnya bertempur tetapi bertempur juga, dimakan cacinglah dia. Sedangkan anaknya, Bonaga, pengusaha muda lulusan Inggris hidup di Jakarta. Bersama teman-temannya : Pomo (Darius Sinathrya), Jaki (Michael Mulyadro), dan Ronnie (Uli Herdinansyah) mereka mengelola bisnis strategis. Konflik utama muncul ketika Bonaga dan teman-temannya menyampaikan ide kepada Nagabonar untuk menjual kebun kelapa sawit miliknya untuk dijadikan resort. Nagabonar marah, “engkau bukan anakku, anakku tidak akan berpikir untuk menjual kuburan moyangnya” sahutnya kepada Bonaga. Nagabonar lebih marah ketika mengetahui bahwa kerjasama akan dilakukan dengan Jepang. Di tengah kemarahannya itu Nagabonar ngelayap sendirian di tengah belantara beton Jakarta menggunakan Bajaj. Beruntung dia bertemu dengan seorang tukang bajaj yang baik hati, Umar (Lukman Sardi) yang menjemputnya dan mengajaknya keliling Jakarta setiap hari.

Perjalanan Nagabonar keliling Jakarta sangat menarik disimak. Banyak hal yang menggambarkan kepada kita betapa nilai-nilai kepahlawanan, Nasionalisme, dan Humanisme telah luntur di kehidupan kita saat ini. Menyaksikan Nagabonar jadi 2 ini seperti mengingatkan diri saya bahwa Bangsa ini punya sesuatu yang bisa dibanggakan di masa lalu yang saat ini sudah luntur nilainya. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan kenapa di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta harus ada patung Jenderal Sudirman yang sedang memberikan hormat? Memberikan hormat ke siapa? Seharusnya kita ini yang memberikan hormat ke beliau bukan? Bukan hanya nasionalisme dan kepahlawanan yang disindir dalam film ini. Masalah spiritualitas pun ikut disindir. Bagaimana bisa Jaki, rekan Bonaga yang katanya rajin sholat tetapi habis sholat melantai berjoget riang di diskotek setelahnya? Atau melakukan penggelapan pajak?

Banyak nilai yang ingin disampaikan dalam film ini selain tema sentralnya mengenai perseteruan antara ayah dan anak yang beda generasi dan nilai itu. Namun yang harus digarisbawahi adalah perseteruan beda generasi pun ada jalan tengahnya, yang bisa diselesaikan secara manis dan elegan. Saya sangat suka film ini. Akan saya koleksi DVD nya kalau di release nanti.

Little Miss Sunshine (2006)

Sunday, March 4th, 2007

LmsSetiap kali hendak menonton sebuah film, biasanya saya pertama kali melihat siapa bintangnya, siapa sutradaranya atau siapa yang meresensikannya. Namun untuk film Little Miss Sunshine ini, saya benar-benar tidak tahu pada awalnya film ini film apa atau siapa bintangnya. karena memang film ini tidak didukung oleh bintang yang terkenal tetapi oleh aktor-aktris yang sesuai dengan perannya masing-masing. Yang saya tahu hanyalah film ini masuk nominasi Oscar untuk kategori best motion picture. Untuk itu ketika, saya memperoleh DVDnya, yang terlintas adalah seperti apa sih filmnya sehingga masuk nominasi Oscar?

Setelah menontonnya, komentar saya film ini luar biasa unik. Ceritanya pun unik. Little Miss Sunshine berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari 6 anggota keluarga : Ayah-Ibu, dua anak dengan ipar dan mertua, yang memiliki masalahnya masing-masing yang bersama-sama mengantarkan Olive (Abigail Breslin), anak perempuan terkecil untuk mengikuti kontes kecantikan anak-anak, Little Miss Sunshine Pageant dari rumah mereka di Albuquerque ke Redondo  Beach California. Mereka keluarga yang pas-pasan sehingga untuk mewujudkan itu mereka harus mengendarai mobil untuk mencapai tempat kontes.

Bersama-sama dalam kendaraan selama beberapa hari bukanlah hal mudah terutama apabila masing-masing anggota keluarga punya masalahnya sendiri-sendiri. Sang Ayah (Greg Kinnear) adalah seorang yang sedang menjual gagasan motivasional untuk mencapai kesuksesan, sang Ibu (Toni Collette) adlaah seorang ibu rumah tangga biasa yang berjuang untuk membahagiakan anak-anaknya di pernikahannya yang kedua ini, Sang Kakek (Alan Arkin) adalah seorang tua yang berperangai buruk yang juga pecandu heroin namun sangat saying kepada cucunya, Dwayne, sang kakak (Paul Dano) adalah remaja yang pembawaannya keras yang sedang puasa berbicara sebelum mencapai cita-citanya menjadi pilot, sang Paman (Steve Carell) seorang homo yang baru saja selamat dari usaha bunuh dirinya dan si kecil Olive yang bermimpi untuk menjadi Miss America suatu saat kelak.

Lms2Dalam perjalanan menuju ke tempat kontes banyak masalah yang mereka hadapi yang membuat ketegangan sepanjang perjalanan karena mereka harus mengejar waktu menuju tempat kontes. Ada saja masalah yang dihadapi dari mobil mogok sampai overdosis. Tetapi dengan perjalanan yang mereka lakukan bersama ini, sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa saling percaya, mendukung dan kekompakan mereka sebagai keluarga. Memang bukan keluarga yang sempurna, namun sejelek-jeleknya mereka mereka tetap sebuah keluarga.

Perasaan saya bercampur aduk saat menonton film ini, kadang kesal karena beberapa kebodohan yang dilakukan, kadang tegang, lucu dan terharu. Sepertinya film ini sedikit ingin menyindir kontes-kontes kecantikan pada umumnya dimana anak-anak seperti menjadi bukan anak-anak yang umum. Tapi banyak hal bisa diperoleh juga melalui film ini. Film ini mengajarkan untuk mencapai apa yang sudah menjadi tujuan jangan berhenti di tengah jalan karena adanya masalah. Juga, film ini mengajarkan tentang betapa indahnya sebuah keluarga walaupun masing-masing anggotanya bermasalah, namun masalah tersebut sedikit banyak bisa cair dengan kebersamaan. Film yang menarik. Bila ingin menonton sesuatu yang unik, Little Miss Sunshine bisa menjadi hiburan sekaligus renungan.

============================

A real loser is someone who’s so afraid of not winning he doesn’t even try.

- Alan Arkin as Grandpa in Little Miss Sunshine - 2006 -

Pay It Forward (2000)

Friday, December 1st, 2006

Pif

Masih ingat film the Sixth Sense? Yang suka film itu pasti ingat acting kerennya Haley Joel Osment, anak ajaib yang aktingnya oke banget. Dan akting oke itu juga ditunjukkan di film Pay It Forward, sebuah film yang menakjubkan. Pay It Forward berkisah tentang seorang anak kecil berumur 11 tahun, Trevor McKinney (Haley Joel Osment), yang mengerjakan proyek ilmu social yang diberikan oleh gurunya, Eugene Simonet (Kevin Spacey), yang menantang mereka untuk merubah dunia. Idenya sederhana saja, Simonet ingin menantang sang anak didik untuk peduli kepada lingkungannya dan kepada dunia tempat mereka hidup. Tantangan tersebut menginspirasi Trevor untuk mencari ide merubah dunia.

Film ini sangat menginspirasi saya karena mengajarkan tentang kebaikan yang diterapkan dalam kehidupan nyata. Semangatnya adalah kita jangan selalu berharap dunia akan berubah tanpa ada tindakan nyata dari kita. Trevor ingin mengajak semua orang memahami bahwa “the world ain’t shit” jika kita mau berbuat baik dan peduli kepada orang lain. Berbagai tantangan dihadapi oleh Trevor dalam mewujudkan proyeknya ini bahkan sempat membuat dia putus asa. Tetapi tanpa disadari, sebuah tindakan yang dirintisnya telah menjadi bola salju yang berdampak pada kehidupan orang lain yang jauh darinya, yang semakin lama semakin berkembang.

Pay it forward sebenarnya adalah konsep social untuk menciptakan efek bola salju sebuah perubahan. Bila setiap orang melakukan perbuatan baik, menolong setidaknya tiga orang lain dan masing-masing orang yang ditolongnya melakukan terhadap tiga orang lainnya, maka semakin lama efek dari kebaikan yang telah dilakukan akan berlipat-lipat dampaknya yang diharapkan dari tindakan tersebut dapat merubah dunia menjadi lebih baik. Maka bayarlah terlebih dahulu dari diri sendiri bila ingin menjadikan dunia lebih baik.

Film ini didukung oleh bintang-bintang seperti Helen Hunt (Twister, As Good As it Gets) yang berperan sebagai Arlene McKinney, ibu Trevor; Chris Chandler dan juga Jon Bon Jovi, sebagai ayah Trevor yang berperangai buruk. Beberapa penghargaan dan nominasi di ajang festival film juga diperoleh oleh film ini. Memang diakui bahwa tema dan jenis dari film seperti Pay It Forward ini tidak selalu memperoleh sambutan yang luar biasa dan memenuhi selera penonton. Bahkan mungkin bisa sangat membosankan bagi sebagian orang, namun bila ingin menghibur diri dengan melihat how simple idea works and makes difference, tidak ada salahnya menyaksikan film ini.

Click (2006)

Thursday, October 5th, 2006

ClickSemalam sehabis pulang kantor, saya menyempatkan nonton film “Click” yang dibintangi oleh Adam Sandler. Mau dibilang komedi, ya ini film komedi, tetapi saya merasa film ini bukan komedi biasa tetapi sebuah sindiran yang sedikit banyak membuat saya sadar mau kemana sih hidup ini.

Tema dari film ini sederhana saja. Film komedi fantasi ini berkisah tentang hidup Michael (Adam Sandler) di tengah usahanya mencapai puncak karir sebagai Arsitek berbakat dan pilihannya antara menyisihkan waktu untuk keluarga atau terus menerus mengejar karirnya. Pada suatu hari, Michael bosan karena di rumahnya banyak sekali remote kontrol yang terkadang membuatnya sulit untuk mengoperasikan yang satu dengan lainnya. Suatu malam dia keluar rumah dengan maksud mencari Universal Remote yang bisa mengontrol apa saja seperti yang dimiliki oleh tetangganya.

Akhirnya dia bertemu dengan Morty (Christopher Walken), seorang ilmuan nyentrik yang memberikan universal remote ajaib. Karena remote ini tidak hanya bekerja untuk televisi atau garasinya, namun juga hidup Michael. Michael dapat sesuka hati untuk mem-fast forward atau pause hidupnya. Kebiasaannya melakukan fast forward inilah yang kemudian dia sesali karena ternyata belakangan dia mengerti bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukanlah karir yang dia kejar.

Film ini cukup menarik dan rasanya bisa dinikmati semua kalangan (kecuali anak-anak di bawah umur 13). Melihat adegan satu ke adegan lainnya seakan-akan membuat kita diingatkan untuk memperhatikan prioritas dalam hidup ini. Apalagi ketika sebelum meninggalnya, Michael mengatakan “Family, Family, Family comes first” kepada Ben, anaknya. Worth to watch!

=======================================

"Remember the Leprechaun? he’s always chasing the pot full of gold at the end of the rainbow. but when he gets there at the end of the day. it’s just corn flakes"

Morty (Christopher Walken) - Click

Crash (2004)

Saturday, May 6th, 2006

It’s the sense of touch. In any real city, you walk, you know? You brush past people, people bump into you. In L.A nobody touches you. We’re always behind this metal and glass. I think we miss that touch so much, that we crash into each other, just so we can feel something

-Graham (Don Cheadle) in Crash (2004)-

Crash

Saya tidak tahan untuk tidak menuliskan betapa terkesannya saya menyaksikan film pemenang Oscar 2006 ini. Dengan sederetan actor dan aktris dengan yang berkualitas maka cukup jelas sudah alasan mengapa film ini bisa memenangkan Oscar. Terlepas dari kontroversi dengan film Brokeback Mountain”, saya pikir film in cukup pantas memperoleh Oscar dan sederet penghargaan perfilman lainnya dengan kualitas cerita yang berbobot.

Film crash bercerita tentang kehidupan manusia modern saat ini. Mengambil setting di Los Angeles dimana interaksi multi etnik terjadi dengan begitu masifnya. Di film ini digambarkan bagaimana perilaku memberi label kepada orang lain berdasarkan etnisnya dapat dengan mudah terjadi. Juga bagaimana prasangka buruk terhadap orang yang berbeda latar belakang dan ras berlangsung di sekitar kita. Film ini ingin bercerita bahwa trauma masa lalu lah yang turut serta membentuk dan memupuk perbedaan, pelabelan dan prasangka itu.

Yang terpenting dari semua label, prasangka dan perbedaan yang ada, film ini ingin memberikan gambaran bahwa dibalik semua label yang kita berikan ke ras atau etnik tertentu, mereka itu adalah manusia. Mereka memiliki cinta, memiliki rasa kekeluargaan, ikatan persaudaraan dan harga diri. Mungkin dengan menampilkan perspektif semacam itu kita bisa lebih mengenal dan dapat memahami perbedaan yang sebenarnya ada di sekitar kita.

Dalam film ini digambarkan bagaimana Jean (Sandra Bullock) begitu traumanya setelah dia dan suaminya mengalami perampokan yang dilakukan oleh dua orang negro. Jean sebelumnya merasa bahwa dia sudah mencoba berprasangka baik dengan kedua bocah negro itu. Namun setelah kejadian itu dia sangat trauma dan dengan mudah memberi label orang lain hanya berdasarkan etnisnya dan penampilan luarnya. Disisi lain bagaimana seorang Cameron (Terrence Howard) harus menahan geramnya atas perlakuan tidak adil seorang polisi kulit putih (Matt Dillon) yang memojokkannya ketika mobilnya dihentikan karena dicurigai mobil curian. Dan kejadian itu berakumulasi kepada proses psikologi mereka di sepanjang hidup mereka. Mungkin inilah yang kerap terjadi di lingkungan sosial dimana banyak individu yang berasal dari latar belakang berbeda berinreaksi satu sama lain.

Saya Cuma bisa berkomentar bahwa film ini layak dan patut ditonton. Benar – benar menyentuh, mengalir dan menghanyutkan. Beragam perasaan bisa ikut terbawa saat menyaksikan film ini. Kita bisa ikut marah, jengkel, kasihan dan bahkan terharu. Sebuah film yang hebat.

Lord of War (2005)

Saturday, March 4th, 2006

“There are over 550 Million firearms in the world-wide circulation. That is one arm to every twelve people on the planet. The only question is, how do we arm the other eleven?”

Yuri Orlov – Lord of War

=========================================

LowMenonton film Lord of War benar-benar membuat saya terhenyak. Menyaksikan film ini kita seakan-akan sedang dikuliahi tentang kenapa perdamaian di muka bumi ini sangat sulit tercipta. Mungkin salah satunya karena ajang pertempuran dan peperangan merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi sebagian orang. Orang yang mengambil jarak terhadap realitas hidup itu sendiri.

Film Lord of War berkisah tentang kehidupan seorang pedagang senjata yang bernama Yuri Orlov (Nicholas Cage) yang sangat piawai menjalankan profesinya. Dia hanyalah seorang anak Ukraina yang hidup di lingkungan yang tidak asing dengan perang, kekerasan, dan pertumpahan darah. Di tengah hidupnya yang pas-pasan, ia memperoleh inspirasi  menjadi pedagang senjata setelah melihat kenyataan bahwa betapa kebutuhan manusia akan senjata sangat besar dan pasti selalu ada.

KepiawaianYuri dalam berbisnis membawanya ke puncak karir. Hampir setiap daerah konflik merupakan pasar yang menggiurkan baginya. Ia berkeliling ke setiap tempat konflik di dunia untuk menyediakan senjata bagi kedua belah pihak. Dia mengambil posisi netral dan tidak mengambil salah satu sisi. Senang juga melihat kehidupannya yang bebas dan sering bepergian ke belahan dunia yang berbeda. Menyaksikan film ini sedikit banyak memperlihatkan kepada kita betapa buruknya situasi di luar sana

Namun menjadi pedagang senjata bukanlah kehidupan sangatLow2  enak juga. Yuri harus berulang kali bergelut dengan konflik dan berbagai ancaman yang bisa merenggut kehidupannya dan juga nyawanya. Ia harus menyembunyikan pekerjaannya yang sebenarnya baik terhadap istrinya sendiri, Ava Fontaine (Bridget Moynahan), Jarang bertemu anaknya, dikejar-kejar agen Interpol, Agen Jack Valentine (Ethan Hawke), dan berbagai peristiwa yang mengancam nyawanya. Yang menarik dari film ini adalah tema pergulatan batin di diri Yuri atas kebenaran moral dan kepuasan kerja. Yang dikejar Yuri bukan hanya materi namun kepuasan bila dia dapat menjual senjata kepada banyak pihak. Sampai-sampai dia tidak peduli senjata yang dijualnya kepada siapa. Dia akan dengan senang hati menjualnya kepada gangster, pemimpin pemberontak, diktator, bahkan pemimpin negara yang sedang di embargo. Tidak ada batas wilayah bagi Yuri. Tidak ada tanggung jawab moral, tidak ada kawan maupun lawan. Semua dianggapnya sebagai customer. Bagi yang senang marketing, pasti dapat belajar dari Yuri bagaimana memuaskan dan membuat loyal para customernya.

Film ini very highly recommended untuk ditonton. Selain bagus dari segi cerita, gambar dan permainan para aktor dan aktrisnya, yang lebih utama adalah pesan dan pelajaran yang ada dibalik ceritanya. Sungguh sebuah kisah yang amat menarik untuk diikuti sekaligus membuat kita terenyuh. Betapa kenyataan akan dunia yang aman dan damai mungkin hanya akan menjadi mimpi belaka.

=========================================

“Do you know who will inherit the Earth? … the Arms dealer.

Because everyone else is too busy killing each other”

Yuri Orlov – Lord of War

GOAL!: The Dream Begins

Sunday, February 12th, 2006

GoalDi akhir pekan yang sepi, saya menghabiskan waktu kembali dengan menonton DVD, aktivitas yang sudah agak lama tidak saya nikmati beberapa hari belakangan ini. Dari beberapa film yang saya tonton, saya terkesan dengan salah satu film yang memukau dan inspiratif. Judulnya singkat saja : GOAL!.

Berkisah tentang pengalaman hidup Santiago Munez (Kuno Becker), seorang anak kaum migran di Los Angeles yang sangat berbakat dan menggemari sepak bola. Karena bakatnya itu maka suatu hari ketika ada seorang mantan talent scout, Glen Foy (Stephen Dillane) melihatnya bermain, Santiago ditawari untuk datang ke Inggris untuk bertemu dengan seorang manager team Newcastle United.

Dalam mengejar impiannya itu, Santiago memperoleh berbagai macam halangan dan rintangan, bahkan dari Ayahnya sendiri yang mengingatkan Santiago untuk tetap “mengjnjak tanah” jangan terpukau oleh mimpi yang hanya akan merugikan dirinya dan juga hidupnya. Dengan tekad keras dan keyakinan kepada dirinya sendiri serta dukungan dari adik dan neneknya, akhirnya Santiago berangkat ke Inggris untuk memperjuangkan mimpinya.

Menonton film yang fenomenal ini, saya seakan diingatkan bahwa untuk membuat mimpi kita jadi kenyataan diperlukan sebuah kerja keras, pengorbanan dan kesungguhan yang besar. Talenta tidak akan cukup membantu apabila tidak diiringi dengan kesungguhan dan keyakinan terhadap diri sendiri. Dalam film ini, Santiago banyak dihadapkan kepada kesulitan dan keharusan untuk berkorban. Sebuah harga yang memang pantas dibayar untuk sebuah usaha mewujudkan mimpi.

Goal3 Film Goal! ini rencananya merupakan salah satu dari trilogy perjalanan hidup Santiago Munez sebagai pemain sepakbola professional. Saya rasa film ini cukup unik karena mengangkat sepak bola sebagai tema sentralnya. Dalam film ini pula kita bisa melihat Alan Shearer, Raul Gonzales, David Beckham, Patrick Kluivert, Zinedine Zidane beserta berbagai pemain sepakbola top lainnya bermain film. Sebuah pemandangan yang rada unik untuk sebuah film, setidaknya menurut pandangan saya. Dengar-dengar sih untuk membuat film ini pun, sang produser harus dapat approval dari FIFA karena menggunakan pemain betulan dalam film ini. Overall, ceritanya benar-benar menyentuh. Sebuah inspirasi yang berarti bagi semua orang yang sedang dalam usaha mengejar mimpi, seperti saya.

===========================================

Dedicated to someone who is chasing his dream

===========================================

Goal2

Inspirational Lesson from “Kingdom of Heaven (2005)”

Friday, December 23rd, 2005

KihAda sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.

Film ini berkisah tentang pengalaman Balian (Orlando Bloom), seorang tukang besi dari perancis yang mengalami nasib yang kurang baik. Di tengah keputus-asaannya dia didatangi oleh seorang bangsawan, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson) yang mengaku sebagai ayahnya. Godfrey yang seorang crusader (pejuang kristen) mengajak Balian untuk ikut bersamanya ke Holy land, Jerusalem. Kerajaan Jerusalem pada saat itu sedang dalam kondisi berdamai dengan kerajaan Islam Syria pimpinan Sultan Salahuddin/ Saladin (Ghassan Massoud) namun kondisi itu terancam karena adanya beberapa pimpinan Crusader yang mencoba mengacaukan keadaan damai dengan Kerajaan Islam dengan membunuh dan merampok orang-orang muslim di perbatasan. Mereka ingin mengacaukan keadaan karena mereka punya ambisi pribadi dan berharap Raja Jerusalem segera wafat dengan sakit yang dideritanya sehingga mereka bisa berkuasa. Dalam sebuah kekacauan, Godfrey of Ibelin terluka parah dan akhirnya wafat. Sebelum wafat, Godfrey sempat mengangkat Balian menggantikannya sebagai Penguasa Ibelin. Dalam memimpin Ibelin, Balian memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin masyarakatnya dan membantu menyelesaikan permasalahannya. Dia sendiri ikut turun tangan dalam bekerja untuk masyarakatnya.

Raja Jerusalem akhirnya wafat di tengah keadaan yang krisis, dan akhirnya diangkatlah Raja baru, Guy de Lusignan, yang lebih kejam dan memusuhi umat muslim di Jerusalem. Karena kekejamannya itu maka memancing perang dengan Kerajaan Syria di bawah Sultan Saladin. Guy de Lusignan dan pasukannya kalah dalam pertempuran. Akhirnya Balian lah yang harus mempertahankan Jerusalem dari serangan Saladin. Walaupun berlangsung seru dan banyak korban di kedua belah pihak, namun akhirnya pertempuran berakhir damai.

Hal yang membuat saya salut dengan film ini adalah penggambaran karakter kepemimpinan Sultan Saladin, Raja Jerusalem dan Balian. Raja Jerusalem, Baldwin, digambarkan sebagai raja yang penuh kharisma, menjaga perjanjian damai, dan bersikap adil. Dia menghukum ksatrianya yang mengkhianati perjanjian damai dengan kerajaan Islam. Di tengah sakitnya yang parah, dia masih memikirkan rakyatnya dan masih dicintai oleh rakyatnya.

Sultan Saladin digambarkan sebagai pribadi yang berwibawa, penuh perhitungan, adil dan berintegritas. Dia memegang teguh prinsip keadilan bahkan terhadap lawannya. Ketika pasukannya siap berperang melawan pasukan jerusalem, dia memilih untuk tidak melanjutkan peperangan karena dia tidak mau melawan pasukan yang pemimpinnya sedang sakit. Bahkan Saladin menawarkan akan mengirimkan seorang tabib buat Raja Baldwin. Ketika tembok Jerusalem sudah roboh dan pasukan Balian sudah terkepung, Saladin malah memilih untuk bernegosiasi, mengakhiri peperangan dengan perdamaian. Sungguh merupakan contoh yang patit ditiru oleh pemimpin bangsa-bangsa saat ini. Mendahulukan kepentingan masyarakatnya di atas ambisi pribadi dan golongannya, mengutamakan keadilan di atas keserakahan.

Kih2Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.

Nilai-nilai kepahlawan, kemanusiaan dan menjunjung tinggi harga diri seorang manusia kadang luput dari perhatian kita saat ini. Tetapi film "Kingdom of Heaven" ini memberikan inspirasi yang luar biasa bagi kita semua yang menyimaknya dengan seksama. Di tengah ancaman pertikaian antar suku, agama, dan ras di muka bumi ini, ada baiknya kita berkaca pada sejarah yang melatarbelakangi film ini. Pada akhirnya dari film ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada yang berjuang atas nama Tuhan untuk menguasai Kingdom of Heaven. Keserakahan, kekuasaan dan ambisi duniawilah yang diperjuangkan. Semoga perdamaian akan senantiasa hadir di muka bumi.

Tom Yum Goong (Thai Soup)

Monday, December 5th, 2005

Tom_yumSaat ini saya sedang terkesima oleh sebuah film bagus dan spektakuler karya negara tetangga kita, Thailand. Sepertinya industri per-film-an di negara Thailand sudah mulai setahap demi setahap menggebrak per-film-an Indonesia. Film Indonesia yang diklaim sedang bangkit ini, sepertinya masih harus belajar dengan film Thailand. Beberapa film Indonesia memang telah diakui oleh kritikus film International sebagai film yang berkualitas, sebut saja Daun di Atas Bantal atau Pasir Berbisik-nya Garin Nugroho, namun dari segi sales International mungkin belum tergarap sepenuhnya. Namun ketika saya menonton TOM YUM GOONG (Thai Soup) saya melihat bahwa Thailand mulai serius untuk menggarap pasar international melalui film (film action). Film Tom Yum Goong buatan Thailand ini pasti akan menjadi film yang digemari oleh para pecinta film action ber-genre fighting. Paling tidak penggemar Jacky Chan, Jet Lee atau Van Damme pasti akan terhibur dengan film ini.

Tom Yum Goong berkisah tentang Kham (Tony Jaa) yang harus berjuang untuk mencari dua Gajah peliharaannya yang dicuri dan diselundupkan ke luar negeri oleh kelompok mafia Internasional yang bermarkas di Australia. Gajah yang dicuri itu bukan hanya gajah biasa, tetapi sudah menjadi bagian dari anggota keluarga Kham. Terlebih lagi, keluarga Kham bermaksud untuk mempersembahkan Gajah itu untuk Raja Thailand. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Kham dalam usahanya untuk mencari Gajah kesayangannya itu dan membawanya pulang. Berbagai aksi seru disuguhkan dalam film ini. Film ini setara dengan film-film aksi dari Hongkong. Banyak adegan yang membuat adrenalin menghentak-hentak. Gerakan-gerakan martial arts yang disuguhkan juga bukan gerakan beladiri biasa. Gerakan-gerakannya lebih banyak ke perpaduan antara Aikido, Jujitsu dan Thai Boxing.

Menyaksikan Tom Yum Goong, bukan hanya menyaksikan adegan perkelahian yang seru. Tetapi Tom_yum2 juga sedikit banyak kita juga bisa merasakan detak kehidupan masyarakat Thailand. Bagaimana nilai kehidupan mereka dan keeksotisan budaya mereka. Saya merekomendasikan film Tom Yum Goong untuk ditonton karena filmnya cukup bagus. Bahkan E!Online mengatakan bahwa Tom Yum Goong merupakan Foreign Film yang terbaik tahun ini. Film ini bagus bukan hanya bagi penggemar film Action tetapi juga mungkin bagi penggemar film drama karena rada unik juga menyaksikan hubungan yang begitu dekat antara manusia dan makhluk liar seperti gajah. Jadi kalo film ini ditonton saat weekend, pasti asyik… Sekaligus mengetahui bahwa di luar sana, negara Asia Tenggara pun sudah berlari mengejar kualitas.

======================================================

"Tontonan yang berkualitas biasanya sepi penonton, dan tontonan yang banyak penontonnya biasanya kurang berkualitas. Kami berusaha membuat frame tontonan yang berkualitas dan disukai olah pemirsa"

Deddy Mizwar, Sutradara Terbaik Cerita Berseri Televisi Piala Vidia 2005 melalui sinetron "Kiamat Sudah Dekat" pada Malam Penganugerahan Piala Vidia 2005