3:10 to Yuma
Monday, February 4th, 2008
3:10 to Yuma (Three ten to Yuma) bisa jadi merupakan salah satu film western yang terbaik. Ceritanya memang tipikal sekali dengan film-film western lainnya. Ada bandit, ada jagoan, jago tembak, kejar-kejaran pake Kuda, yah pokoknya khas deh. Yang membuat berbeda dari film 3.10 to Yuma ini adalah kekuatan ceritanya. Saya tadinya kurang tertarik dengan judul dari film ini. 3:10 to Yuma, maksudnya apa ya. Terus terang ketika mulai nonton, saya malas untuk beranjak dari depan layer TV. Benar-benar membuat penasaran bagaimana akhir dari ceritanya.
Ceritanya berkisah tentang seorang pemilik ladang/ rancher yang mantan milisi di perang saudara AS, Daniel Evans (Christian Bale) dalam berjuang untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Suatu ketika, dalam sebuah kebetulan, dia mendapat kesempatan untuk bersama-sama warga kota Bisbee untuk mengirimkan bandit yang paling dicari seluruh negeri, Ben Wade (Russel Crowe), yang tertangkap di kota tersebut, ke Contention untuk dinaikkan ke Kereta Api menuju penjara Yuma. Untuk melaksanakan tugas tersebut Evans dijanjikan untuk memperoleh upah sebesar USD 200. Jumlah yang menurutnya cukup untuk mempertahankan peternakannya dan juga memenuhi kebutuhan keluarganya. Yang menarik adalah yang mengawal Ben Wade adalah warga biasa yang tidak semua adalah penegak hukum. Daniel Evans sendiri walaupun mantan tentara tapi dia hanya memiliki satu kaki. Sehingga ketegangan-ketegangan muncul dalam proses perjalanan menuju Contention.
Ben wade juga bukan penjahat sembarangan. Dia pandai, lihai dan jago tembak pula. Satu persatu tim pengantar dibunuhnya dengan caranya sendiri. Keadaan bertambah runyam dengan kejaran dari gang Ben Wade yang bersikeras untuk membebaskan bos mereka. Cerita dari 3:10 to Yuma ini menjadi berwarna karena ceritanya bukan hanya duel baku tembak antara jagoan dengan penjahat, tetapi bagaimana Daniel Evans yang seorang biasa berkeras untuk melaksanakan tugasnya mengawal Ben Wade untuk dibawa ke Penjara. Bukan tugas yang ringan untuk seorang seperti Dan Evans. Terlebih lagi di saat mereka sudah tinggal menunggu kereta menuju Yuma menjelang pukul tiga lewat sepuluh. Dan Evans dikepung oleh gang Ben Wade yang dibantu warga kota Contention yang tergiur dengan imbalan 200 Dollar untuk membunuh pengawal Ben Wade.
Salah satu plot yang saya suka adalah ketika semua orang mundur untuk mengawal Ben Wade, tapi Evans tetap tidak bergeming bahkan dia minta anaknya yang ikut bersamanya untuk meninggalkannya sambil berkata ingatlah ayahmu, seorang yang mengawal Ben Wade, selagi orang lain tidak ada. Benar-benar mencerminkan jiwa ksatria sejati yang tidak mundur dan gentar dalam tekanan lawan.
Hal yang bisa diambil pelajaran dari film ini adalah bila kita memiliki suatu tujuan capailah tujuan tersebut dengan usaha yang keras dan mulia. Apapun resikonya pantang untuk mundur. Terkadang dibutuhkan pengorbanan diri sendiri untuk mengambil tanggung jawab menciptakan keadaan yang lebih baik.
Bagi yang senang ataupun yang kangen dengan film-film western, 3:10 to Yuma bisa menjadi obat kangen yang menghibur dan menginspirasi.
======================================================
"I ain’t never been no hero, Wade. The only battle I seen, we was in retreat. My foot got shot off by one of my own men. You try telling that story to your boy. See how he he looks at you then"
Daniel Evans (Christian Bale) in 3:10 to Yuma
======================================================

Setiap kali hendak menonton sebuah film, biasanya saya pertama kali melihat siapa bintangnya, siapa sutradaranya atau siapa yang meresensikannya. Namun untuk film Little Miss Sunshine ini, saya benar-benar tidak tahu pada awalnya film ini film apa atau siapa bintangnya. karena memang film ini tidak didukung oleh bintang yang terkenal tetapi oleh aktor-aktris yang sesuai dengan perannya masing-masing. Yang saya tahu hanyalah film ini masuk nominasi Oscar untuk kategori best motion picture. Untuk itu ketika, saya memperoleh DVDnya, yang terlintas adalah seperti apa sih filmnya sehingga masuk nominasi Oscar?
Dalam perjalanan menuju ke tempat kontes banyak masalah yang mereka hadapi yang membuat ketegangan sepanjang perjalanan karena mereka harus mengejar waktu menuju tempat kontes. 
Semalam sehabis pulang kantor, saya menyempatkan nonton film “Click” yang dibintangi oleh Adam Sandler. Mau dibilang komedi, ya ini film komedi, tetapi saya merasa film ini bukan komedi biasa tetapi sebuah sindiran yang sedikit banyak membuat saya sadar mau kemana sih hidup ini.

Menonton film Lord of War benar-benar membuat saya terhenyak. Menyaksikan film ini kita seakan-akan sedang dikuliahi tentang kenapa perdamaian di muka bumi ini sangat sulit tercipta. Mungkin salah satunya karena ajang pertempuran dan peperangan merupakan bisnis yang sangat menggiurkan bagi sebagian orang. Orang yang mengambil jarak terhadap realitas hidup itu sendiri.
enak juga. Yuri harus berulang kali bergelut dengan konflik dan berbagai ancaman yang bisa merenggut kehidupannya dan juga nyawanya. Ia harus menyembunyikan pekerjaannya yang sebenarnya baik terhadap istrinya sendiri, Ava Fontaine (Bridget Moynahan), Jarang bertemu anaknya, dikejar-kejar agen Interpol, Agen Jack Valentine (Ethan Hawke), dan berbagai peristiwa yang mengancam nyawanya. Yang menarik dari film ini adalah tema pergulatan batin di diri Yuri atas kebenaran moral dan kepuasan kerja. Yang dikejar Yuri bukan hanya materi namun kepuasan bila dia dapat menjual senjata kepada banyak pihak. Sampai-sampai dia tidak peduli senjata yang dijualnya kepada siapa. Dia akan dengan senang hati menjualnya kepada gangster, pemimpin pemberontak, diktator, bahkan pemimpin negara yang sedang di embargo.
Di akhir pekan yang sepi, saya menghabiskan waktu kembali dengan menonton DVD, aktivitas yang sudah agak lama tidak saya nikmati beberapa hari belakangan ini. Dari beberapa film yang saya tonton, saya terkesan dengan salah satu film yang memukau dan inspiratif. Judulnya singkat saja : GOAL!.
Film Goal! ini rencananya merupakan salah satu dari trilogy perjalanan hidup Santiago Munez sebagai pemain sepakbola professional. Saya rasa film ini cukup unik karena mengangkat sepak bola sebagai tema sentralnya. Dalam film ini pula kita bisa melihat Alan Shearer, Raul Gonzales, David Beckham, Patrick Kluivert, Zinedine Zidane beserta berbagai pemain sepakbola top lainnya bermain film. Sebuah pemandangan yang rada unik untuk sebuah film, setidaknya menurut pandangan saya. Dengar-dengar sih untuk membuat film ini pun, sang produser harus dapat approval dari FIFA karena menggunakan pemain betulan dalam film ini. Overall, ceritanya benar-benar menyentuh. Sebuah inspirasi yang berarti bagi semua orang yang sedang dalam usaha mengejar mimpi, seperti saya.
Ada sebuah film yang menarik yang saya pikir akan menarik bila saya share di blog ini. Hari minggu yang lalu saya menyempatkan diri menonton film "Kingdom of Heaven"-nya Ridley Scott. Produser dan sutradara dari film Gladiator ini memang patut diacungi jempol untuk karyanya yang satu ini. Film ini bisa dikategorikan sebagai film kolosal modern yang spektakuler. Baik dari scene, sinematografi, dan juga dari kekuatan cerita itu sendiri. Mengambil latar belakang pada abad XII pada masa perang salib, Kingdom of Heaven mencoba menggambarkan keadaan masyarakat pada saat itu yang hidup damai berdampingan antara warga muslim dan kristen dibawah kepemimpinan Raja Baldwin IV. Raja Baldwin merupakan seorang pemimpin yang bijak, dia memiliki visi untuk mendirikan Kingdom of Heaven dimana semua warga yang terdiri dari berbagai budaya dan agama dapat hidup berdampingan secara harmonis. Namun banyak hambatan dari dalam kerajaan sendiri untuk mencapai cita-cita itu tetapi bukan karena ketidakmungkinan warga yang berbeda latar belakang itu untuk hidup berdampingan, namun karena kepentingan pribadi, perasaan serakah dan keangkuhan pribadi.
Saya juga sangat terkesan sama karakter Balian. Balian digambarkan seorang yang sederhana dan berdedikasi terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Dia pun teguh mempertahankah sumpah yang diturunkan oleh Godfrey: "Protect the helpless and keep the peace". Dia juga orang yang setia kepada Raja dan orang yang berpendirian teguh. Ketika dia ditawarkan oleh Raja Baldwin untuk menikahi adiknya, Sybilla, yang akan menjanda karena dia berencana akan menghukum mati Guy de Lusignan, Balian malah menolak dengan alasan bahwa perbuatannya akan melanggar hak Guy de Lusignan. Padahal dengan menjadi istri Sybilla, ia akan diangkat menjadi Raja kelak ketika Raja Baldwin telah meninggal.
Saat ini saya sedang terkesima oleh sebuah film bagus dan spektakuler karya negara tetangga kita, Thailand. Sepertinya industri per-film-an di negara Thailand sudah mulai setahap demi setahap menggebrak per-film-an Indonesia. Film Indonesia yang diklaim sedang bangkit ini, sepertinya masih harus belajar dengan film Thailand. Beberapa film Indonesia memang telah diakui oleh kritikus film International sebagai film yang berkualitas, sebut saja Daun di Atas Bantal atau Pasir Berbisik-nya Garin Nugroho, namun dari segi sales International mungkin belum tergarap sepenuhnya. Namun ketika saya menonton TOM YUM GOONG (Thai Soup) saya melihat bahwa Thailand mulai serius untuk menggarap pasar international melalui film (film action). Film Tom Yum Goong buatan Thailand ini pasti akan menjadi film yang digemari oleh para pecinta film action ber-genre fighting. Paling tidak penggemar Jacky Chan, Jet Lee atau Van Damme pasti akan terhibur dengan film ini.
juga sedikit banyak kita juga bisa merasakan detak kehidupan masyarakat Thailand. Bagaimana nilai kehidupan mereka dan keeksotisan budaya mereka. Saya merekomendasikan film Tom Yum Goong untuk ditonton karena filmnya cukup bagus. Bahkan E!Online mengatakan bahwa Tom Yum Goong merupakan Foreign Film yang terbaik tahun ini. Film ini bagus bukan hanya bagi penggemar film Action tetapi juga mungkin bagi penggemar film drama karena rada unik juga menyaksikan hubungan yang begitu dekat antara manusia dan makhluk liar seperti gajah. Jadi kalo film ini ditonton saat weekend, pasti asyik… Sekaligus mengetahui bahwa di luar sana, negara Asia Tenggara pun sudah berlari mengejar kualitas.