Terpikir Dian Sastro

Diansastro Di sela-sela waktu senggang saya, saya suka melakukan browsing di internet, mengunjungi beberapa situs maupun hanya mengecek beberapa account email saya. Masuk dari satu email ke email lainnya, membaca posting-posting dari mailing list yang saya ikuti. Dari mailing list- mailing list yang saya ikuti itu setidaknya saya memperoleh informasi baru, pandangan baru maupun berita-berita iseng baru.

Baru saja ada yang menarik perhatian saya mengenai penolakan Masyarakat Film Indonesia (MFI) terhadap Lembaga Sensor Film (LSF) yang disampaikan dalam sidang perkara Mahkamah Konstitusi yang sedang menguji materi Undang-undang no. 8 tahun 1992 tentang Perfilman terhadap UUD 1945. Permohonan keberatan diajukan oleh Riri Riza, Nia Dinata, Shanty, Rois Amriradhiani, dan Tino Saroengallo.

Penolakan terhadap LSF disebabkan karena LSF bukanlah penjaga moral anak, yang bertanggung jawab untuk menjaga moral anak adalah orang tua mereka. LSF dinilai sebagai lembaga yang mengekang kebebasan berekspresi yang pada prakteknya saat ini, LSF terkadang menghilangkan esensi dari sebuah film. Saya sebagai penikmat tayangan film, TV maupun Layar lebar, dalam maupun luar negeri bertanya-tanya dengan keberatan tersebut. Saya merasa selama ini tidak berkeberatan dengan adanya LSF bahkan seharusnya berterima kasih karena berarti adanya LSF menjamin isi dari sebuah tayangan disesuaikan dengan audience yang akan menontonnya. Mungkin saya terlalu bodoh dan mereka terlalu pintar sehingga saya kurang melihat esensinya apabila dinyatakan bahwa LSF menghambat kreativitas mereka. Menurut pemikiran saya, dengan adanya aturan mengenai tayangan dan tanggung jawab social kepada masyarakat dari sebuah karya justru harusnya membuat mereka semakin kreatif menciptakan karya yang mendidik masyarakat namun menarik.

Namun concern saya sebenarnya bukan ke arah penolakan itu, tetapi ada pernyataan dari artis cantik, Dian Sastrowardoyo yang berkomentar bahwa " Dengan adanya sensor film, kecerdasan bangsa Indonesia Nol!" Wow, itu sebuah penyataan yang menyakitkan, Dian sayang. Entah orang lain yang mendengarnya tapi buat saya, itu cukup mnyekitkan dan melecehkan. Saya merasa saya dan masyarakat Indonesia lainnya punya akal pikiran dan pilihann untuk memperoleh informasi dan sumber untuk mencerdaskan bangsa bukan hanya film. Film hanyalah sebuah media, bagian dari banyaknya media informasi saat ini. Jadi bila ada film yang disensor tidak menjadikan masyarakat Indonesia bodoh atau terbelakang, tetapi mungkin pundi-pundi finansial bisnis film yang berkurang. Saya rasa alasannya menjadi naif menolak adanya sensor film. Di negara liberal semacam Amerika ataupun Inggris pun ada lembaga sensor. Seharusnya adanya LSF bukan menjadikan kreatifitas mereka menjadi mati, melainkan harusnya menjadi lebih kreatif dari standar yang mereka tetapkan. Jadi, Dian, saya sangat kecewa dengan pernyataan kamu. Saya merasa saya punya pilihan untuk menonton film manapun, jenis apapun, baik dengan adanya LSF maupun tidak adanya LSF. Dan seperti saya, jutaan masyarakat Indonesia lainnya pun sama. Masih banyak media lain yang bisa mencerdaskan bangsa ini dan kami masih punya pemikiran yang sehat tanpa menonton film-film yang disensor. Seharusnya berterima kasihlah kita kepada LSF yang peduli terhadap isi tayangan yang akan disuguhkan kepada masyarakat. Memang bukan mereka yang bertanggungjawab terhadap moral anak-anak kita, namun dengan adanya merekalah kita yang memiliki anak merasa aman dan nyaman bahwa sudah ada orang diluar sana yang sudah memeriksa tayangan yang akan ditonton oleh anak-anak kita.

Malam ini saya terpikirkan Dian, bukan karena dia loncat kesana kemari dalam iklan sebuah provider seluler, tapi karena pernyataannya yang melecehkan saya dan jutaan anak bangsa lainnya.

One Response to “Terpikir Dian Sastro”

  1. miNooRie Says:

    huh ka diyan bantuin rena yah???

Leave a Reply